Pendidikan

Pendidikan

Mahyeldi dan Imsakiyah Ramadhan

Oleh: Sawir Pribadi#

TAK ada hubungan sama sekali, antara Mahyeldi dengan imsyakiyah. Mahyeldi adalah Walikota Padang yang telah memasuki periode kedua, sedangkan imsyakiyah adalah pedoman waktu menahan dan berbuka bagi umat Islam yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Sungguhpun demikian kita coba menghubungkan, sekaligus membandingkan. Entah bisa, entah tidak!

Sejak beberapa tahun terakhir, kegiatan rutin Mahyeldi selaku Walikota Padang adalah mengunjungi warga yang kehidupan ekonominya kurang beruntung. Uniknya, itu dilakukan menjelang sahur, antara pukul 03-04 dini hari. Tak hanya sekadar mengunjungi, tapi langsung sahur di rumah warga bersangkutan.

Ini tentu patut diapresiasi. Seorang kepala daerah yang 'lasak' tidak saja siang, tetapi juga malam hingga pagi. Kalau siang, apalagi dalam jam kerja, okelah. Ini malam menjelang Subuh!

Secara pribadi saya tidak kenal dekat dengan Mahyeldi. Bahkan, jika bertemu seorang-seorang, mungkin sang walikota juga tak akan mengenali saya.

Lima tahun jadi wakil walikota, satu periode sudah berlalu pula jadi walikota dan sekarang masuk periode kedua  'lasak' Mahyeldi pun menuai pujian dari masyarakat. Tidak saja warga Kota Padang, tetapi juga perantau Sumbar yang ada di berbagai penjuru Nusantara yang luas ini.

Beberapa postingan tentang aksi Mahyeldi di media sosial yang dilakukan Humas Kota Padang, mendapat apresiasi dan pujian netizen. Menurut mereka nyaris tak ada kepala daerah seperti Mahyeldi yang mau turun ke rumah-rumah warga miskin hingga dini hari.

Ada yang menjadi catatan tersendiri, jika aksi turun ke rumah-rumah warga miskin menjelang pemilihan walikota bisa dinilai sebagai pencitraan. Tapi ini tidak. Mahyeldi konsisten dengan 'lasaknya' itu. 

Berseberangan dengan itu, lembaran imsyakiyah yang di Ramadhan tahun lalu berserakan di mana-mana, puasa kali ini nyaris tak ditemukan. Kalau (mungkin) ada, barangkali sama saja dengan mencari pinjaik dalam jerami.

Ya, Ramadhan ini tak ada imsyakiyah  bergambar caleg. Ini karena pemilu telah berlalu. Kata seorang teman, kalau mau imsyakiyah dan kalender bergambar caleg tunggu empat tahun lagi.

Begitulah! Padahal di antara ribuan caleg, sudah bisa diketahui siapa-siapa saja yang lulus ke gedung dewan baik kabupaten/kota, provinsi maupun ke Senayan. Lalu, kenapa mereka tidak membalas tusukan warga dengan selembar imsyakiyah saja? Terlalu mahalkah biayanya?

Apa yang dilakukan masyarakat memilih para caleg pada pemilu adalah iklas. Masyarakat pun sadar bahwa kebaikan dan kedekatan caleg  itu lantaran beharap suara. Itu akan jadi siklus lima tahunan.

Karenanya kita berharap para caleg, jangan lupakan masyarakat. Terpilih atau tidak, jadikanlah masyarakat itu sebagai kawan, teman atau saudara. Bahkan mungkin juga sebagai aset.

 Tetaplah menyapa, walau lewat selembar imsyakiyah. Dengan cara itu, tuan-tuan akan selalu diingat. Mana tahu lima tahun berikutnya mau mencalon lagi, baik untuk caleg maupun calon kepala daerah.

Satu hal yang perlu direnungkan. "Bertanamlah, rawat dan pupuklah, jika ingin memetik hasil". Setidaknya hasil di akhirat, jika semua dilakukan dengan iklas. Semoga! 

#penulis adalah wartawan senior, karyawan di SKH Singgalang, Padang


bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera