Pendidikan

Pendidikan

Davit Pelor: Emzalmi - Desri Ayunda Berpotensi Jadi Kekuatan Besar Ketika Disatukan



PADANG -- 
Janji kampanye adalah utang yang harus ditunaikan. Jika tidak, maka akan menjadi dosa politik. Pengabaian janji kampanye, tercermin dalam kepemimpinan Kota Padang satu periode terakhir. Tidak saja cenderung bekerja "one man show", walikota terpilih terkesan "tanpa dosa" tatkala 10 janji yang ditumpahkan pada masa kampanye menguap begitu saja seiring perjalanan waktu, hingga penghujung masa jabatan. 

Serangkaian kalimat di atas merupakan ungkapan kekecewaan seorang warga Kota Padang bernama lengkap Muhammad Fitri Irawan, setelah secara seksama mengamati sekaligus mengevaluasi progress pembangunan di segala bidang, pada masa kepemimpinan Walikota Padang satu periode terakhir.

"Mangkir dari janji-janji kampanye berimplikasi pada sosok pemimpin yang menjauh dari nilai-nilai dasar. Padahal, seorang pemimpin dituntut mampu mengkontekstualisakan dari yang sekedar gagasan, menjadi bernilai praktis. Jika ini gagal dilakoni, berarti warga Kota Padang kecolongan. Terlanjur memilih pemimpin yang gagal dalam perencanaan pembangunan. Sementara orang perencanaan punya prinsip: gagal merencanakan, berarti sedang merencanakan kegagalan!," urai "Davit Pelor", demikian sapaan akrab warga Kelurahan Koto Marapak, Kecamatan Padang Barat tersebut. 

Davit yakin, kekecewaan serupa juga dirasakan ribuan warga Kota Padang lainnya. Sebab, masing-masing juga terlanjur menerima lalu menunggu realisasi dari janji-janji sang walikota pada saat kampanye.

Kendati sempat menelan kopi pahit kekecewaan ketika pemimpin terpilih di kotanya terkesan mengabaikan bahkan melupakan serangkaian janji kampanye-nya, namun bagi Davit Pelor, kemunculan pasangan calon nomor urut 1 Emzalmi - Desri Ayunda pada Pilkada Padang Juli 2018 mendatang setidaknya membuka harapan baru lahirnya pemimpin yang mampu menjiwai prinsip-prinsip dasar demokrasi melalui gaya kepemimpinan partisipatif, akomodatif, responsif, demokratis, egaliter, juga merakyat. 

Ditilik dari track record, lanjut Davit, baik Emzalmi maupun Desri Ayunda merupakan figur yang telah teruji dan patut dipuji. Masing-masing dibekali kelebihan yang berpotensi menjadi kekuatan besar ketika disatukan. 

"Nah, belajar dari pil pahit yang terlanjur kita telan, saya mengajak warga Kota Padang untuk memilih pasangan ideal ini. Gunakan hak suara masing-masing kita untuk memilih mereka pada Pilkada mendatang. Ingat, satu suara kita sangat menentukan untuk perubahan ke arah yang lebih baik!," seru tokoh pemuda yang juga menggeluti bidang jurnalistik ini.

Ia lebih lanjut menekankan, dalam Pilkada, yang kita cari adalah seorang pemimpin yang mampu menjiwai prinsip-prinsip dasar demokrasi. Kita tidak sedang mencari pemimpin yang hanya mampu menjadi pemimpi plus haus kekuasaan semata. 

Diuraikan Davit, pemimpin harus mampu menjadi sosok yang partisipatif. Partisipatif dalam arti ke dalam bahwa yang bersangkutan mampu terlibat dalam semua hal-hal yang sifatnya teknis, taktis, dan politis. Partisipatif dalam arti ke luar bahwa yang bersangkutan harus mampu mengajak semua orang untuk sama-sama terlibat dalam agenda pembangunan daerah.

Seorang pemimpin akomodatif adalah seorang pemimpin yang mampu menjembatani berbagai agregasi kepentingan; lintas batas budaya, etnis, kelas, dan aliran politik. Akomodatif juga berarti mau dan mampu menampung semua masukan dalam rangka meningkatkan kualitas pembangunan. 

Pemimpin yang responsif adalah seorang pemimpin yang cepat dan tanggap dalam mengatasi berbagai keluhan dari masyarakat, mampu mengkomunikasikan berbagai gagasan dan peristiwa, serta piawai bertindak tepat di waktu darurat. Kita sesungguhnya sedang mencari pemimpin yang mampu berempati dengan berbagai persoalan rakyat.

Seorang pemimpin yang demokratis adalah seorang pemimpin yang mampu mendengar, merasakan, dan mengambil tindakan secara terbuka, setaraf, dan objektif. Demokratis bukan sekedar jargon, tetapi sebuah cara dimana kita memilih instrumen politik yang berkeadilan untuk semua. 

Seorang pemimpin yang egaliter adalah seorang pemimpin yang mampu mendudukkan diri sebagai kawula, bukan sebagai elit. Egaliter melekatkan makna bahwa seorang pemimpin itu mampu memposisikan dirinya sebagai bagian dari rakyat kebanyakan.

Adapun pemimpin yang merakyat adalah pemimpin yang tidak sekedar berpenampilan dan bertutur secara sederhana, namun juga mampu menyelami jiwa-jiwa  rakyatnya. Ini tercermin dari sikap tulus, bersahaja, jujur, dan berkultur kerakyatan.

Bagaimana kemudian menguji prinsip-prinsip dasar kepemimpinan tersebut? Ada banyak cerita dimana pemimpin yang banyak duduk di singgasana kekuasaan hanya piawai berjanji, namun tuna implementasi. Krisis kemampuan adalah pangkal mula dari krisis kepemimpinan. 

Menurut dia, banyak pemimpin yang terpilih, galau dalam bertindak karena tidak memiliki bekal pemahaman yang cukup mengenai prinsip-prinsip dasar kepemimpinan. Alih-alih membayangkan pemimpin mampu menjadi seorang politisi, teknokrat, dan birokrat, seorang pemimpin kerapkali justru sibuk dengan serangkain pencitraan pribadi seraya mengumpulkan pundi-pundi keuangan untuk hajatan politik berikutnya. 

"Kita patut sayangkan jika ritual lima tahunan hanya menghasilkan pemimpin politik yang hanya haus kekuasaan dan prestise formal.  Satu suara yang kita salurkan jadi mubazir," ujar Davit di akhir wawancara. 

(ede) 



bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera