Pendidikan

Pendidikan

Ira 'Kartini' Damayanti; Nasib Perempuan Masih Perlu Diperjuangkan

SURABAYA, beritalima.com - Perempuan masa kini memang banyak mengalami kemajuan. Akan tetapi, masih banyak pula yang hak-haknya perlu diperhatikan dan diperjuangkan.





Tentang perempuan, itulah salah satu yang banyak berkecamuk di benak Ira Damayanti, politisi perempuan Gerindra dari Jawa Timur. Pikiran, ucapan dan kaki tangan Ira seakan tak bisa diam buat kaumnya.


Wakil Ketua DPD Gerindra Jatim ini mengatakan, masih banyak pandangan yang salah terhadap perempuan. Tidak sedikit orang yang masih berpendapat bahwa perempuan tempatnya di belakang, dan tidak perlu pendidikan tinggi.


Karena itu, dalam setiap menghadiri pertemuan dengan ibu-ibu, ibu 3 anak ini hampir selalu memberi arahan pada mereka untuk tidak menomorduakan pendidikan puterinya.


Masyarakat harus menyekolahkan setinggi mungkin putra-putrinya,  bukan cuma putranya. Karena, lanjut
Bendahara Perempuan Indonesia Raya (PIRA) Jawa Timur ini, dari putri yang pintar akan lahir generasi yang berkualitas.


Kepedulian Ira terhadap perempuan dan generasi muda juga dibarengi dengan tindakan nyata. Dalam membangun generasi bangsa yang cerdas, owner Kopi Bubuk Arabika Kloeching ini aktif membagi-bagikan susu kepada ibu-ibu dan anak-anak.


Menurutnya, sejak 2009 Gerindra punya program bernama Revolusi Putih, yakni bagi-bagi susu pada ibu-ibu dan anak-anak ekonomi lemah. Program ini digagas Ketum Partai Gerindra Prabowo, dan wajib dijalankan semua kader partai di daerah-daerah.


Tentang keterwakilan perempuan di parlemen, paling banyak dikemukakan Ira. Penasehat Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) ini mengatakan, aturannya   keterwakilan perempuan kuotanya memang 30 persen. Namun hingga saat ini keterwakilan perempuan di parlemen masih sekitar 11,4 persen.


Belum tercapainya kuota 30 persen perempuan, menurut Ira, karena keterbatasan perempuan sendiri. Diakui, perempuan memang masih sebagai pelengkap. Namun, Kartini masa kini ini berharap jadi pelengkap yang sempurna.


Menurutnya, lemahnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif harus diakhiri, supaya kebijakan undang-undang juga mewakili kepentingan perempuan.


Ira mengatakan, kondisi seperti ini mustinya negara hadir. Mustinya dibikin aturan atau ada kebijakan yang mendorong agar kuota 30 persen untuk perempuan terpenuhi, misalnya dengan menempatkan perempuan di nomor urut caleg teratas.


Ira sendiri selaku pengurus perempuan Partai Gerindra Jatim telah berupaya memotivasi perempuan Gerindra untuk berani maju sebagai caleg pada Pileg 2019 mendatang. Ira bersama perempuan DPD Gerindra Jatim telah  mengadakan pembekalan politisi perempuan Partai Gerindra, pertengahan Maret lalu.


Dalam acara workshop bertema "Membangun Karakter Pemimpin Perempuan Berkualitas" ini menghadirkan pembicara di antaranya mantan KPU dari FISIP UI dan Dosen FISIP Unair. Tujuan acara ini supaya perempuan Gerindra Jatim maju jadi caleg dengan persiapan mental yang cukup.


Dikatakan, masih banyak kepentingan perempuan yang sering dilanggar, misalnya tentang hak cuti hamil dan melahirkan, serta perlindungan terhadap TKW. Selain itu, perlunya pula undang-undang yang menguatkan anak perempuan memperoleh pendidikan tinggi.


Pengagum Walikota Surabaya Tri Rismaharini ini juga mempersoalkan kompleknya permasalahan TKW. Dia setiap kali ke luar negeri sering ditemui TKW dengan segudang keluhan.


Diungkapkan, pelatihan kerja bagi TKW dinilai masih setengah hati. Para TKW mengaku sering dimarahi majikan hanya karena tidak tahu cara menggunakan perabotan rumah tangga modern. Sebelum berangkat ke luar negeri memang sudah diajari, tapi tidak dengan praktek, karena takut alatnya rusak.


Terakhir Ira mengkritik perempuan yang sudah duduk di kursi parlemen.
Menurut istri drg Harli Prabowo ini, perempuan yang sudah jadi dewan banyak yang tidak konsisten, tidak memperjuangkan kepentingan perempuan. Mereka hanya sekedar berjuang untuk membela partainya. Pengusaha sukses ini berharap semua perempuan saat ini cerdas dan sejahtera. (Ganefo)


Teks Foto: Ira Damayanti

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera