Pendidikan

Pendidikan

Ramai Kasus E-KTP dan Keresahan Novanto Hingga Kembalikan Jam Tangan Mewah

JAKARTA -- Sidang kasus dugaan korupsi e-KTP terus bergulir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Pada Kamis (30/11/2017) kemarin, giliran terdakwa Andi Narogong yang memberikan kesaksian.

Ada fakta menarik yang dia ungkapkan di persidangan yang berjalan sejak Kamis siang sampai jelang sore. Salah satunya soal hadiah jam tangan mewah untuk Setya Novanto yang kini telah menjadi tersangka untuk kasus yang sama. Saat pembahasan proyek e-KTP berlangsung di DPR, Novanto tengah menduduki kursi Ketua Fraksi Golkar di DPR.

Dalam kesaksiannya, Andi mengakui dirinya lah yang memberi jam tangan mewah. Andi membeli jam tangan itu hasil patungan bersama Johannes Marliem, direktur Biomorf Lone LLC Amerika Serikat, perusahaan penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merek L-1 untuk proyek e-KTP.

Disebut-sebut, harga jam mewah bermerek Richard Mille dibeli untuk Novanto mencapai Rp 1,3 miliar. Mereka membelinya di kawasan California. Andi pribadi mengeluarkan uang sekitar Rp 650 juta, sedangkan sisanya ditanggung Johanes.

Dia menjelaskan, jam itu sebagai ucapan terima kasih pada Novanto karena telah membantu proses anggaran e-KTP di DPR.

"Jadi Anda berikan jam tangan setelah proyek selesai sebagai ucapan terima kasih. Begitu?" tanya Jaksa Basir.

"Betul," ungkap Andi singkat.

Namun, Andi tak menjelaskan secara rinci waktu pembelian. Dia hanya menerangkan, setelah jam tersebut tiba di tangannya, sesegera mungkin dia mengantarkan ke kediaman Novanto. Menurutnya, Novanto menyambut baik hadiah patungan darinya dan Johanes.

"Pak Nov senang. Ini ada hadiah kami berdua atas bantuan bapak selama ini," ujar Andi.

Mendengar harga jam tangan yang diberikan Andi dan Johanes untuk Novanto sempat membuat Ketua Majelis Hakim Jhon Halasan Butarbutar kaget.

"Bagi saya yang miskin harga jam tangan segitu mahal sekali, Gokil," kelakar Jhon.

Namun Andi berdalih, andai kata tak ada proyek e-KTP, dia pun tak sudi memberikan jam mahal itu untuk Setnov.

"Seandainya tidak ada proyek e-KTP, apakah anda mau membelikan Setya Novanto jam tangan semahal itu?" tanya Jhon pada Andi.

"Tidak yang mulia," Andi menjawab.

Saat hakim dan jaksa mencecar soal jam tangan mewah, ada fakta menarik yang diungkap Andi. Setelah kasus e-KTP kembali mencuat ke publik, Setnov memutuskan mengembalikan jam tangan miliaran itu.

"Pada saat saya sebelum ditangkap, awal 2017 dikembalikan karena ada ribut-ribut e-KTP," ungkap Andi tidak menjelaskan lebih detail waktu pengembalian.

Setelah kembali menerima jam tangan tersebut dari Setnov, Andi memutuskan menjualnya di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan dan terjual dengan harga Rp 1 miliar.

Cerita soal jam tangan mewah untuk Novanto pernah diungkap agen FBI Johnathan Holden terkait penyelidikan terhadap Johannes Marliem. Menurut Holden, terdapat pembelian jam tangan seharga USD 135.000 di Beverly Hills yang mana jam tersebut akan diberikan Setya Novanto.

[mdk/lia/rki]


bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera