Pendidikan

Pendidikan

Pilkada Padang, Gerindra “Ditinggal” PKS

PADANG -- Koalisi permanen yang digembar-gemborkan Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari pusat hingga ke daerah, berpotensi pecah di Pilkada Padang. Gejala awal sudah terlihat pascakeluarnya surat keputusan antara PAN dan PKS untuk mengusung Mahyeldi – Hendri Septa. Lalu, apa sikap Gerindra?

Partai besutan Prabowo Subianto itu berada dalam posisi yang pelik. Apakah tetap di dalam koalisi permanen dengan PKS, dengan turut serta mengusung atau mendukung Mahyeldi – Hendri Septa, atau memilih untuk meladeni pertarungan dengan membentuk koalisi baru di luar PKS, dengan mengusung calon lain. Opsinya hanya itu.

Sebagai partai pemenang di Padang, Gerindra tentu ingin mengusung kadernya sebagai calon wakil walikota untuk mendampingi Mahyeldi, yang diusung PKS. Namun, harapan itu pupus seiring digaetnya Hendri Septa oleh Mahyeldi, seizin Ketua Umum DPP PKS, Sohibul Imam. Mau tidak mau, Gerindra harus gigit jari, dan membuang harapan agar kadernya bisa mendampingi Mahyeldi dalam alek demokrasi lima tahunan itu.

Seyogyanya, secara hitungan pembagian kursi sebagai syarat dukungan untuk mengusung calon, PKS dan PAN tidak butuh bantuan dari Gerindra. Sesuai aturan main, parpol atau gabungan parpol yang mau mengusung calon, minimal harus memiliki sembilan kursi di DPRD Padang. PKS punya lima kursi, PAN memiliki enam kursi. Mereka tidak butuh tambahan.

Ketika ditanyakan, Wakil Ketua DPW PKS Sumbar, Nurfirmanwansyah menyebut kalau pergerakan politik berjalan dinamis. Dia tidak menampik, kalau ada perbincangan untuk terus berkoalisi dengan Gerindra di sejumlah Pilkada di Sumbar. "Politik itu berjalan dinamis, itu saja jawabannya," ungkap Nurfirmanwansyah tanpa mau lebih dalam mengomentari soal perpecahan koalisi dengan Gerindra.

Menurut Nurfirmanwansyah, DPP PKS telah mengeluarkan surat keputusan untuk mengusung Mayeldi dan Hendri Septa pada Pilkada Padang 2018. Ia mengatakan, DPP PKS mengeluarkan surat yang ditandatangani oleh Presiden PKS, Sohibul Imam, dan Sekjen PKS, Mustafa Kamal, itu pada 24 November.

"Itu sudah sesuai SK DPP. Hendri Septa sudah mendapatkan restu dari DPP PAN untuk maju ke Pilkada Padang. Hal itu sangat penting karena PKS kekurangan kursi di Padang untuk mengusung Mahyeldi. Alasan lainnya, Hendri Septa sudah datang secara resmi ke DPW PKS Sumbar dan DPP PKS untuk berkomunikasi. Dia orang baik, pernah jadi anggota DPRD Padang, ketua partai juga. Dia juga punya orang tua dan mertua orang besar dan punya massa, yakni Asli Chaidir dan Leonardy Harmainy," ujarnya, Minggu (3/12/2017).

Sementara itu, ditanya soal dipilihnya PAN untuk berkoalisi oleh PKS, Ketua DPD Gerindra Sumbar, Nasrul Abit mengaku tidak mempersoalkannya. "Itu urusan mereka. Saya hormati keputusan itu," ucapnya.

Pada rakerwil PKS Sumbar pada Maret 2017 yang menyatakan bahwa Gerindra merupakan koalisi terbaik PKS, termasuk di Sumatra Barat. Saat ditanya mengenai pernyataan PKS Sumbar itu, Nasrul tidak mau menjawabnya.

"Tanyakanlah itu kepada PKS. Mereka yang seharusnya menjawab itu," tutur Wakil Gubernur Sumbar itu.

Meski ditinggalkan oleh PKS, Nasrul mengatakan, sebagai partai pemenang di Padang, Gerindra akan mengusung calon sendiri.

"Kalau PKS sudah duluan memilih calon, ya, tidak apa-apa. Yang jelas, Gerindra sudah melakukan survei terhadap calon-calon yang akan diusung untuk Pilkada Padang. Nama-nama calon yang sudah disurvei itu akan dikirim ke DPP Gerindra. Kita tunggu saja calon yang akan diusung Gerindra," ucapnya.

(han/ben/rki)


bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera