Pendidikan

Pendidikan

Percik darah di Penjara Permisan Nusakambangan

JAKARTA -- Terakhir kali mengikuti kegiatan kebaktian di lingkungan penjara Permisan Nusakambangan, dia menyanyikan lagu-lagu pilu berlirik kematian. Perilaku itu dianggap tak wajar. Isyarat yang kemudian hari diartikan oleh sesama napi sebagai tanda ajal yang mendekat. Namanya Tumpur Biondi alias Bondi, penghuni kamar blok Rajawali Lapas Kelas II A Permisan Nusakambangan.

Beberapa pekan lalu, Selasa (7/11), Bondi terkapar tak bernyawa saat terjadi pertikaian tak terlerai antarnarapidana di blok C no 20. Punggungnya berlumuran darah akibat luka tusuk. Sedang tengkorak kepalanya digempur batu bata. Gambaran miris pertikaian itu nampak dari sejumlah barang bukti senjata tajam yang digunakan para napi: mulai dari sebilah golok berkarat, pisau dapur, potongan besi, pecahan runcing botol, batu bata sampai balok-balok kayu.

Di penjara yang terletak di bagian selatan Nusakambangan itu, sosok Bondi dikenal sebagai bagian dari lingkaran Jhon Kei, napi kelas kakap tersangka perkara pembunuhan Tan Hary Tantono, Direktur Sanex Steel. Pada teman-temannya sesama napi, Bondi sering mengungkapkan bahwa Jhon Kei ia anggap sebagai bapak angkatnya. Hubungan emosional itulah, yang memungkinkan Bondi bersikap loyal pada pria asal Maluku yang kerap dikabarkan memiliki bisnis jasa pengamanan di Ibu Kota dari Priok hingga Tanah Abang. Gosip yang beredar di kalangan napi, Bondi patuh dan setia pada Jhon Kei agar kelak bisa masuk ke jaringan preman di Jakarta ketika bebas dari Nusakambangan.

Usut punya usut, di dalam penjara Permisan hubungan interaksi para napi terbagi dalam beberapa kelompok. Ada dua kelompok besar terdiri dari 20-an para napi, yaitu kelompok Jakarta-Ambon dipimpin Jhon Kei dan Kelompok Jawa dipimpin Sutrisno alias Jhon Tris. Dua kelompok paling berpengaruh inilah yang saling bertikai sampai akhirnya menyebabkan Bondi terbunuh.

Pertikaian itu terjadi pada pukul 12.30. Kelompok Jhon Kei dari lantai atas penjara Permisan berbondong-bondong ke lantai bawah hendak menyerang Jhon Tris. Siang itu, Bondi memilih posisi di barisan terdepan, sedang kelompok Jhon Tris sudah bersiap di lantai bawah. Saat dua kelompok bertemu, baku hantam tak terelakkan.

Meski diserang rupanya kelompok Jhon Tris tak mudah ditundukkan. Justru sebaliknya kelompok Jhon Kei dipaksa mundur. Tapi Bondi pantang melangkah ke belakang, justru ia melangkah maju menyabung nyawa sendirian saat kawan-kawannya lari menyelamatkan nyawa masing-masing. Bahkan Bondi sempat melukai napi kelompok Jhon Tris, yakni Odit alias Kebo yang ia tikam dengan pisau di paha kanan.

"Jhon Kei ada di posisi belakang saat pertikaian. Seperti seorang jenderal," kata sumber Merdeka.com di dalam lapas yang enggan disebut namanya.

Keributan kecil di pagi hari

Lima jam sebelum keributan terjadi, situasi di Penjara Permisan berjalan umumnya hari-hari biasa. Pukul 07.00, sipir melakukan apel memastikan jumlah napi sesuai daftar. Tanpa kecurigaan, setelah apel dilakukan, semua napi dikeluarkan dari kamar. Penjara Permisan sendiri berdaya tampung 224 orang tapi dihuni 325 napi. Sedang petugas jaga lapas hari itu 9 orang dan petugas administrasi 39 orang.

Rincian data jumlah napi di permisan yang bisa diakses yakni dokumen tahun 2015. Dirinci saat itu, napi terbagi dalam 4 kategori yakni napi teroris berjumlah 12 orang, napi hukuman mati 3 orang, napi seumur hidup 6 orang sedang napi pidana umum 140 orang. Bila ditarik kesimpulan, maka sampai tahun 2017, selama 2 tahun ada peningkatan jumlah napi di Permisan sebanyak 164 orang.

Sejarah penjara Permisan sendiri dibangun tahun 1908 oleh kolonial Hindia Belanda. Tapi penjara ini mulai dipergunakan pada tahun 1910 dan termasuk penjara paling awal di Poelaoe Boei atau bijzondestraf gevangenis Nusakambangan. Kini bangunan ini terbagi dalam dua lantai untuk kamar-kamar napi, di lantai bawah blok A,B,C dan di lantai atas terbagi dalam blok Rajawali dan Garuda.

"Termasuk penjara angker di sini," katanya singkat.

Saban hari, napi pidana umum mendapat hak keluar dari kamar dan beraktivitas di area penjara dengan pembagian waktu dari pukul 07.00 sampai 13.00 dan dilanjut pukul 14.30 sampai 17.00. Sedang napi teroris mengalami pembatasan, keluar dari kamar pukul 07.00 sampai pukul 09.00 dan dilanjut pukul 13.00 sampai 15.00. Ketika jam pertama diluar kamar diperlakukan pada Selasa (7/11) pagi, aktivitas para napi juga nampak normal: sebagian asyik berolahraga, sebagian lain menjemur pakaian atau antarnapi sekadar saling bercakap.

Di lantai atas penjara Permisan, di kamar yang disebut sebagai tempo, Jhon Kei menghuni sendirian karena selalu terlibat kisruh jika berbagi kamar dengan napi lain. Pagi pukul 07.30, ia belum beranjak keluar dari selnya. Tak diduga, serombongan napi teroris mendekat ke kamar napi kelas kakap itu lantas melempari Jhon Kei dengan batu.

"Penyebabnya apa, saya tidak tahu pasti. Sepanjang pengetahuan saya, memang banyak napi yang tak menyukai Jhon Kei. Orangnya sok jagoan," kata informan merdeka.com.

Di antara rombongan napi teroris itu, pemandangan yang tak biasa, ikut bergabung pula pimpinan kelompok Jawa yakni Jhon Tris. Padahal, kelompok teroris tergolong kumpulan napi yang tak mudah didekati juga membangun pergaulan. Tapi di kalangan napi mereka cukup disegani karena dinilai sangat kompak. Sedang para sipir memandang mereka sulit diatur, tapi tak mudah diperingati sebab dalam perlindungan sejumlah pengacara.

"Jhon tris tampaknya memanfaatkan situasi itu. Kedekatan Jhon Tris dan kelompok teroris saya tidak tahu. Mungkin Jhon Tris ingin menunjukkan pengaruhnya, kalau kelompok Jawa lebih kuat," lanjutnya.

Kehadiran Jhon Tris itulah, yang memantik sakit hati kelompok Jhon Kei. Kabar Jhon Kei diserang pun meluas ke para napi. Informasi itu berarti pula mencoreng harga diri kelompok Jakarta-Ambon. Jhon tris lantas jadi sasaran satu-satunya pembalasan sebab menyerang kelompok teroris tak memungkinkan karena mereka telah dimasukkan ke dalam sel.

"Insiden di pagi hari itu yang kemudian jadi sebab pertikaian antar napi pukul 12.30. Karena pertikaian melibatkan banyak napi dan sebagian bersenjata tajam, siapa yang berani memisah. Jumlah sipir juga sedikit. Bisa mati konyol malah," lanjutnya.

Tujuh tersangka

Tujuh narapidana lantas ditetapkan sebagai tersangka terkait pertikaian antar napi di Lapas Permisan Nusakambangan yang mengakibatkan Bondi kehilangan nyawa. Tujuh tersangka tersebut disebut-sebut berasal dari dua kelompok napi yang saling bersitegang merebut gengsi dan pengaruh di lingkungan lapas.

Kapolres Cilacap, AKBP Djoko Julianto mengatakan dari tujuh tersangka itu, diketahui pembunuh Tumbur yakni napi pidana umum, Sutrisno alias Jon Tris. Sutrisno termasuk tahanan pendamping (tamping) berusia 27 tahun dan berasal dari Semarang. Ia pelaku penusukan terhadap Bondi di bagian punggung menggunakan pisau. Selain Jon Tris juga terlibat Hasan Bisri, napi asal Temangung berusia 36 tahun. Ia melakukan pengejaran terhadap Bondi sembari membawa batu bata. Selain itu ada juga Odit Pradipta yang dijuluki Kebo berusia 25 tahun. Ia melakukan pemukulan pada Bondi.

"Untuk tersangka kami sudah amankan. Korban yang terbunuh juga telah diatopsi. Sedang napi-napi yang terlibat pertikaian termasuk Jhon Kei juga telah dilakukan visum di RSUD Cilacap," kata Djoko saat menggelar pers release di Mapolres Cilacap, Rabu (8/11).

Pihak kepolisian telah melakukan penyitaan barang bukti yakni 3 senjata tajam, tiga buah batu dan baju korban yang berlumuran darah. Kepolisian juga telah melakukan razia ke kamar-kamar napi untuk memastikan tak adanya penyimpanan senjata tajam. Sedang potongan-potongan besi, balok kayu diduga didapatkan para napi di sekitaran area pembangunan aula di lapas Pemisan.

"Untuk senjata tajam yang dipakai pelaku pembunuhan sedang kita dalami. Para tersangka dikenakan pasal 170 KUHP yang mengatur sanksi hukum bagi pelaku kekerasan terhadap orang. Para tersangka diancam hukuman penjara di atas lima tahun." ungkapnya.

Sedang Kepala Lapas Permisan, Yan Kusmanto mengatakan memang ada budaya berkelompok yang saling berebut pengaruh di antara para napi. Pertikaian di Lapas Permisan ia katakan juga dipicu gengsi pengaruh tersebut dan muatan dendam. Tapi Yan tak menyebut bahwa Jhon Kei merupakan salah seorang pimpinan kelompok napi.

"Memang ada budaya semacam itu (kelompok) di lapas. Korban Bondi berkawan dengan Jhon Kei," kata Yan saat menggelar pers release di Mapolres Cilacap, Rabu (8/11).

Yan juga sempat bercerita, bentrokan sempat terjadi usai jam makan para napi. Ketika itu para napi dikumpulkan untuk apel dan dikeluarkan dari sel. Tak dinyana, sejumlah napi langsung terlibat pertikaian.Tapi ia juga tak menyebut-nyebut adanya keterlibatan kelompok teroris yang melempari kamar Jhon Kei dengan batu.

"Saat kejadian saya sendiri sedang di Jakarta. Laporan yang saya dapatkan seperti itu," kata Yan.

Akibat pertikaian antar napi yang berujung pada tewasnya satu napi, Lapas Permisan ditutup untuk kunjungan. Yan juga mengatakan sejumlah napi yang terlibat pertikaian dipindah ke lapas Pasir Putih dan Batu. "Belum ada batas waktu yang ditentukan kapan lapas Permisan dibuka untuk kunjungan." lanjutnya.

Jhon Kei, sosok antagonis

Dari informasi yang didapat, sampai Senin (13/11) Lapas Permisan masih tertutup untuk kunjungan. Sedang Jhon Kei, yang mendapat luka di pelipis dan tangan saat pertikaian terjadi, telah dipindah ke Lapas Batu. Narasumber mengatakan, kemanapun Jhon Kei dipindah, napi kelas kakap ini seringkali membuat situasi lapas jadi panas.

Jhon Kei sejauh yang ia tahu kerap membuat keributan-keributan sesama napi. Jhon Kei juga dikatakan pandai memprovokasi para napi lain sehingga menimbulkan gesekan konflik antar napi. Jhon Kei mudah mendapatkan teman karena ia punya banyak uang.

"Di penjara itu, riwayat Jhon Kei yang disegani di dunia luar gak begitu pengaruh. Di penjara, paling berpengaruh adalah uang. Jhon Kei itu seperti bandar narkoba, dimana dia ditempatkan maka lapas itu apes. Bakal mbledug (meledak dalam bahasa Banyumas) dengan kejadian," katanya menutup perbincangan.

Menyingkap sepak terjang Jhon Kei di Nusakambangan

Di penjara Permisan Nusakambangan, uang merupakan kekuatan yang paling besar untuk memperoleh pengaruh sesama napi. Di luar penjara, nama Jhon Refra Kei boleh jadi sangat disegani atau lebih tepat ditakuti. Napi kelas kakap ini dikabarkan dekat dengan sejumlah petinggi, memiliki bisnis jasa pengamanan di Ibu Kota dari Priok hingga Tanah Abang.

Tapi kehidupan di dalam penjara, tak peduli soal kehebatan sepak terjang Jhon Kei di dunia kekerasan Ibu Kota. Perkawanan terbentuk lebih mudah jika ada lembar-lembar uang. Sebab itu pula, tersangka perkara pembunuhan Direktur Sanex Steel, Tan Hary Tantono, dikenal bersikap loyal. Ia terkesan menghambur-hampurkan uang ke beberapa napi.

Ada cerita tersendiri soal sikap loyal Jhon Kei. Saban mendatangi kantin lapas, ia selalu membeli 15-20 potong ayam goreng. Jelas, lauk itu bukan semata untuk mengenyangkan perut dirinya sendiri. Bisa dikata, pria asal Maluku itu menghidupi sejumlah napi. Di penjara Permisan, mereka disebut-sebut sebagai kelompok Jakarta-Ambon terdiri dari 15 sampai 20 orang. Jhon Kei menjadi pemimpin mereka.

"Tagihan di kantin tiap bulan untuk Jhon Kei bisa Rp 10 juta," kata sumber di dalam lapas yang enggan disebut namanya.

Menolak tunduk

Riwayat Jhon Kei sebagai napi di Nusakambangan, bermula pada 2 Maret 2014. Ia dipindah dari Rutan negara Salemba, Jakarta. Kedatangan Jhon Kei sejak awal di pulau bui Nusakambangan sudah menimbulkan geger.

Ketika itu, ia menolak berjalan jongkok saat diminta menuju kapal Pengayoman IV yang akan menyeberangkannya menuju dermaga Sodong Pulau Nusakambangan. Ia seakan ingin menggambarkan dirinya sebagai orang yang tidak pernah tunduk. Tak ayal, penolakan itu sempat memancing emosi petugas sehingga sempat terjadi ketegangan.

Tiga tahun mendekam di Nusakambangan, Jhon Kei merupakan sosok yang banyak tak disenangi. Ia kerap membuat keributan-keributan sesama napi. Ia juga dikatakan pandai memprovokasi para napi lain sehingga menimbulkan gesekan konflik antar napi. Sikapnya yang sok jagoan dan berperilaku layaknya bos, membuat ia memiliki banyak musuh.

"Karena sering buat ribut itulah, Jhon Kei menghuni kamar tahanan sendirian di sel tempo lapas Permisan. Kalau digabungkan dengan napi lain pasti ada saja keributan," lanjutnya.

Sebab banyak napi yang tak menyenanginya, sempat tersiar gosip, Jhon Kei pernah mengajukan pindah ke Lapas Sukamiskin di Bandung. Merdeka.com mencoba mengonfirmasi kebenaran informasi ini ke Koordinator Lapas Se-Nusakambangan dan Cilacap, Sudjonggo, tapi telepon dan SMS tak pernah dibalas. Redaksi juga berupaya menghubungi Tofik Chandra, pengacara yang pernah menjadi kuasa hukum Jhon Kei. Sayang, Tofik tak bisa memberi keterangan apapun.

"Saya sudah tidak lagi jadi pengacaranya (Jhon Kei). Sudah lama sekali gak berhubungan," kata Tofik singkat melalui sambungan telepon, Selasa (14/11).

Sosok Jhon Kei, memang tak lepas dari gosip. Belum lama ini, pada Rabu 13 September 2017, ia pernah dikabarkan berniat menjadi Muslim. Saat itu, Koordinator Lapas Se-Nusakambangan dan Cilacap, menegaskan kabar itu bohong. Tak pernah ada laporan tentang niat perpindahan agama dilakukan oleh napi yang pernah dijuluki sebagai Godfather of Jakarta itu.

Diserang Kelompok Napi Teroris

Pertikaian antar napi di Lapas Permisan Nusakambangan pada Selasa (7/11) yang mengakibatkan satu orang tewas, juga tak lepas dari sosok Jhon Kei. Hari itu, pagi pukul 07.30, Jhon Kei belum beranjak keluar dari selnya. Tak diduga, serombongan napi teroris mendekat ke kamar napi kelas kakap itu lantas melempari Jhon Kei dengan batu.

"Penyebabnya apa, saya tidak tahu pasti. Sepanjang pengetahuan saya, memang banyak napi yang tak menyukai Jhon Kei. Orangnya sok jagoan," kata informan tersebut.

Di antara rombongan napi teroris itu, pemandangan yang tak biasa, ikut bergabung pula pimpinan kelompok Jawa yakni Jhon Tris. Padahal, kelompok teroris tergolong kumpulan napi yang tak mudah didekati juga membangun pergaulan. Tapi di kalangan napi mereka cukup disegani karena dinilai sangat kompak. Sedang para sipir memandang mereka sulit diatur, tapi tak mudah diperingati sebab dalam perlindungan sejumlah pengacara.

Kehadiran Jhon Tris itulah, yang memantik sakit hati kelompok Jhon Kei. Kabar Jhon Kei diserang pun meluas ke para napi. Informasi itu berarti pula mencoreng harga diri kelompok Jakarta-Ambon. Jhon tris lantas jadi sasaran satu-satunya pembalasan sebab menyerang kelompok teroris tak memungkinkan karena mereka telah dimasukkan ke dalam sel.

"Insiden di pagi hari itu yang kemudian jadi sebab pertikaian antar napi pukul 12.30," lanjutnya.

Berniat lakukan pembalasan, kelompok Jhon Kei dari lantai atas penjara Permisan berbondong-bondong ke lantai bawah hendak menyerang Jhon Tris. Sedang kelompok Jhon Tris sudah bersiap di lantai bawah. Saat dua kelompok bertemu, baku hantam tak terelakkan.

Meski diserang rupanya kelompok Jhon Tris tak mudah ditundukkan. Justru sebaliknya kelompok Jhon Kei dipaksa mundur. Dalam pertikaian itu Jhon Kei dikabarkan mengalami luka di pelipis dan tangan. Sedang satu kawannya, yakni Tumpur Biondi alias Bondi, penghuni kamar blok Rajawali Lapas Kelas II A Permisan Nusakambangan terbunuh akibat luka tusukan di punggung.

"Jhon Kei ada di posisi belakang saat pertikaian. Seperti seorang jenderal," kata sumber di dalam lapas yang enggan disebut namanya.

Bapak angkat Bondi

Bondi yang tewas, pada teman-temannya sesama napi, sering mengungkapkan bahwa Jhon Kei ia anggap sebagai bapak angkatnya. Menurut sumber merdeka.com, bisa jadi hal ini hanya pengakuan sepihak Bondi. Pasalnya, saat Bondi terbunuh, Jhon Kei justru tak memperlihatkan rasa kesedihan.

Tapi kehilangan orang dekat secara tragis, memang bukan pengalaman pertama bagi Jhon Kei. Pada 8 Juni 2004, kakak kandungnya Walterus Refra terbunuh saat terjadi bentrokan antara kelompok Jhon Kei dan Basri Sangaji di depan Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Pada 31 Mei 2013, giliran adik kandungnya yakni Tito Refra Kei tewas ditembak orang tak dikenal. Ketika itu sang adik tengah bermain kartu di toko kelontong di dekat kediamannya di Kota Bekasi.

Jhon Kei kini meringkuk di Lapas Batu usai pertikaian yang menyebabkan tewasnya Bondi. Ia hidup dari skandal ke skandal yang memang tak jauh-jauh dari bentrokan, penagihan utang dan jasa pengawalan lahan dan tempat. Hidup di balik bui dan divonis 12 tahun dalam kasus pembunuhan yang dilatarbelakangi tunggakan pembayaran jasa penagihan utang Rp 600 juta, Jhon Kei nyatanya tetap tak jauh-jauh dari bentrokan. Kisah hidup di mana konflik, darah dan kekerasan telah menjadi bagian yang menyatu dalam riwayat hidupnya.

Sumber: Merdeka.com

[mdk/cob/rki]

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera