Pendidikan

Pendidikan

Laporan Kejadian Tanpa Narasi dan Informasi Lengkap, Kerap Akibatkan Hoax


LAPORAN atas sebuah kejadian yang disampaikan netizen sering kali sangat membantu. Tapi juga kerap mengakibatkan hoax, karena tak dilengkapi dengan narasi atau informasi yang lengkap. Itulah yang terjadi pada peristiwa angin kencang di sekitar Gunung Galunggung, Tasikmalaya, Jumat (1/12/2017).

Sebuah video yang direkam netizen menggambarkan kepanikan masyarakat di sekitar Gunung Galunggung. Terdengar suara gemuruh angin dalam video itu. Benda-benda beterbangan. Bahkan, ada motor yang terjatuh karena empasan angin. Beberapa polisi juga tampak mengevakuasi warga masuk ke mobil patroli Polsek Cihideung, Tasikmalaya.

Tidak jelas siapa perekam video berdurasi 2 menit 50 detik itu. Namun, jika ditelusuri, sejak Jumat pekan lalu banyak yang menyebarkan video tersebut ke media sosial, baik di jejaring Whats App (WA), Twitter, termasuk Facebook (FB). Salah satu yang mengunggah video itu di sejak Jumat (1/12/2017) adalah akun FB Asep Erik.

Dari keterangan video, sebenarnya Asep Erik tidak berniat menyebarkan hoax. Dia hanya menulis ''Lokasi kejadian Gunung Galunggung''. Hingga kemarin, video yang diunggah Asep Erik di FB ditonton sedikitnya 3.400 netizen. Juga dibagikan ulang oleh puluhan pemilik akun FB lainnya.

Nah, mungkin orang-orang yang membagikan video unggahan Asep Erik itulah yang latah bahkan "lebay". Mereka menyebut Gunung Galunggung meletus. Dua yang menyebut kejadian itu sebagai Galunggung meletus adalah akun FB Yunus dan Kanty Liu. Keduanya membagikan video yang sama, tapi diberi caption Gunung Galunggung meletus. ''Gunung Galunggung meletus, melontarkan batu-batu,'' tulis akun Kanty Liu Rabu malam (6/12/2017).

Ada teman Kanty Liu yang menanyakan dalam kolom komentar terkait dengan video yang dia bagikan. ''Kapan?" tanya akun Listi Malic. Kanty Liu pun menjawab pasti, ''Kemarin''. Lalu, ada pertanyaan lain dari akun Bernadetta Renita Wibisono, ''Tapi di berita nasional kok gak ada ya?''. Dengan santai, Kanty Liu menjawab, ''g tau y. ini dpt dari teman kmrn''.

Ada juga yang lucu, yakni posting-an akun FB Nengah Astika. Pada Rabu malam (6/12/2017), Nengah Astika membagikan video dari grup FB Nasionalis Cyber Indonesia. Video itu persis seperti yang sebelumnya dibagikan akun Asep Erik. Malah dalam video itu sudah ada penjelasan tentang kejadian yang sebenarnya. Sayang, penjelasannya menggunakan bahasa Sunda.

''Nembe terang. Mung kantos nj aya badai tea... Galunggung ditutup margi anginna ageung. Berarti bukan meletus, tetapi angin besar yang melemparkan bebatuan.'' Begitu caption yang ditulis di grup Nasionalis Cyber Indonesia.

Entah karena tidak tahu bahasanya atau memang latah ingin menyebarkan hoax, akun Nengah Astika justru tetap menganggap apa yang ada dalam video itu merupakan kejadian Gunung Galunggung meletus. ''Wihh ngeri, Gunung Galunggung meletus menyebabkan hujan batu. Semoga Gunung Agung tidak sampe begitu, dumogi Rahayu sareng sami... Astungkara,'' tulis akun Nengah Astika.

Karena ramai disebarkan Gunung Galunggung meletus, Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho pun bereaksi. Pada Rabu (6/12/2017) malam, Sutopo berkicau lewat akun Twitter sembari membagikan video yang menyebar di media sosial.

''Gunung Galunggung di Tasikmalaya tetap status Normal. Tidak meletus. Tidak ada hujan batu,'' tulis Sutopo. Menurut dia, benda-benda yang beterbangan seperti terekam dalam video disebabkan tertiup angin kencang atau puting beliung di lereng gunung. ''Kumpulan awan Cumulonimbus menyebabkan angin kencang sebelum hujan. Waspadalah saat mendung,'' pungkas Sutopo.

Pelajaran dari kejadian itu, ketika Anda merekam suatu kejadian dan ingin membagikannya via media sosial, lebih baik lengkapi dengan informasi yang akurat. Sebaliknya, kalau menerima informasi sebuah kejadian yang belum jelas, jangan Anda simpulkan sendiri.

FaktaVideo benda-benda beterbangan di Tasikmalaya bukan karena Gunung Galunggung meletus, tapi karena angin puting beliung.

Hingga Jumat (8/12/2017), rekaman video angin puting beliung di lereng Gunung Galunggung masih tersebar luas di jejaring sosial, terutama di Whats App Group (WAG). Sebagian besar pemilik akun WA sekedar membagikan video tanpa menuliskan narasi atau komentar terkait peristiwa mencekam yang terekam video. 

(jpg/gun/eko/c19/fat/ede)




AMOI # aliansi media online & telekomunikasi Indonesia

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera