Pendidikan

Pendidikan

Kiprah lima tokoh dunia paling disorot selama 2017

SEJUMLAH tokoh dunia mewarnai panggung internasional di tahun 2017 ini. Di antara mereka ada beberapa tokoh yang paling banyak disorot media internasional. Merdeka.com memilih lima sosok yang paling disorot dunia berikut ini:

1. Donald Trump

Sejak masa kampanye Trump kerap melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang menuai komentar publik.
Trump kemudian membuat dunia tercengang ketika dia memenangkan pemilu presiden dengan mengalahkan kandidat dari Partai Demokrat Hillary Clinton. Dunia kaget karena sejumlah survei sebelumnya memprediksi Trump akan kalah dari Clinton.

Di masa awal kepemimpinannya Trump kemudian mengeluarkan serangkaian kebijakan yang kembali menuai berbagai kecaman internasional, seperti larangan bepergian bagi sejumlah warga negara mayoritas berpenduduk muslim, seperti Irak, Iran, Suriah, Sudan, Yaman, Libya, Somalia.

Tak hanya itu, Trump juga berencana membangun tembok pembatas dengan Meksiko untuk mencegah masuknya imigran ilegal. Anehnya Trump meminta Meksiko yang membayar ongkos pembangunan tembok itu. Permintaan ini jelas ditolak mentah-mentah oleh Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto.

2. Kim Jong-un

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memanfaatkan tahun 2017 untuk menguji sejauh mana perkembangan senjata nuklir negaranya. Sepanjang tahun ini, sudah ada enam senjata nuklir yang diluncurkan Korut. Kebanyakan roket tersebut terbang dan melintasi langit Jepang sebelum akhirnya jatuh ke laut.

Peluncuran nuklir ini membuat banyak pihak khawatir akan terjadinya perang di Semenanjung Korea. Hal itu juga tentunya meningkatkan ketegangan antara Korut dengan berbagai negara di dunia, khususnya Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump secara tegas mengecam uji coba senjata nuklir Korut. Bahkan Trump pun mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memberi sanksi terhadap Korut dengan tujuan agar uji coba nuklir dihentikan.

Beberapa sanksi yang diberikan di antaranya pemblokiran ekspor minyak ke Korut, pelarangan kapal-kapal keluar-masuk dari pelabuhan Korut terutama yang bermuatan bahan bakar atau bahan senjata, pelarangan impor pekerja asal Korut dan pelarangan penjualan gas alam ke Korut.

Selain itu, sanksi tersebut juga memberlakukan larangan bepergian bagi pemimpin Korut Kim Jong-un serta pembekuan asetnya.

Dalam sebuah sidang DK PBB, Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, menyatakan bahwa sanksi tersebut perlu dilakukan agar dunia tidak merasa terancam.

"Dunia tidak menerima Korut yang terus-terusan meluncurkan senjata nuklir dan hari ini DK PBB memberikan sanksi baru untuk rezim Korut agar menghentikan seluruh program nuklirnya," Haley.

Meski demikian, rupanya sanksi yang diberikan tidak memberi pengaruh apapun terhadap Korut. Jong-un berkeras melakukan uji coba nuklir dengan harapan bisa melindungi negaranya dari intervensi negara lain. Bahkan dirinya mengklaim program senjata nuklirnya membuat dunia jadi lebih aman dan bisa mencegah terjadinya perang nuklir dengan AS.

"Program nuklir Korea Utara sudah mencegah AS mengambil langkah untuk melakukan perang nuklir, dan kami telah melindungi perdamaian serta keamanan negara," ucapnya dalam artikel di koran pemerintah Korut tersebut.

"Tidak ada yang bisa menginjak harga diri kami. Kedaulatan Korea Selatan sudah diinjak-injak oleh pasukan asing. Dan kehadiran Amerika Serikat di sana sumber masalah dari pelanggaran kedaulatan dan kehormatan sebuah negara, kami tidak akan seperti itu," tegasnya lagi.

3. Aung San Suu Kyi

Tokoh prodemokrasi Myanmar ini masuk dalam tokoh dunia pilihan merdeka.com tahun ini lantaran krisis kemanusiaan menimpa warga Rohingya.

Penyiksaan terhadap warga Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine oleh pasukan militer Myanmar sejak akhir Agustus lalu menyita perhatian dunia internasional di tahun 2017. Atas peristiwa tersebut, publik pun menunjuk satu nama yang dianggap sebagai dalang di balik penyiksaan tersebut. Dia adalah Aung San Suu Kyi.

Suu Kyi merupakan pemimpin de facto negara Myanmar. Dulunya dia adalah aktivis yang memperjuangkan demokrasi dan menentang kekuasaan rezim militer di negara tersebut. Dia ditangkap dan dijadikan tahanan rumah karena perjuangannya tersebut. Namun berkat kegigihannya, dia akhirnya menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

Namun kini, segala penghargaan yang melekat dalam dirinya dianggap tidak pantas lagi disandang. Sebab, Suu Kyi memilih bungkam saat jutaan penduduk Rohingya diserang oleh pasukan keamanan karena dianggap imigran ilegal. Padahal, penduduk Rohingya telah menempati negara itu selama beberapa generasi.

Suu Kyi juga dinilai tidak melakukan upaya apapun untuk meredam konflik yang terjadi di negaranya antara umat Buddha dan Muslim. Saat penduduk Rohingya melarikan diri ke Bangladesh untuk terlepas dari siksaan, Suu Kyi pun tidak melakukan upaya pencegahan.

Berkali-kali, Suu Kyi menghindar saat dimintai keterangan tentang situasi yang sebenarnya terjadi di wilayah konflik tersebut. Bahkan, karena takut dikritik, perempuan 72 tahun itu pun sengaja tak hadiri sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September lalu.

Namun ketika akhirnya buka suara, Suu Kyi pun tidak memberikan keterangan berarti tentang situasi yang terjadi.

"Saya menyadari fakta bahwa perhatian dunia kini tertuju pada situasi di Negara Bagian Rakhine. Sebagai orang bertanggung jawab di Myanmar, saya tidak takut dengan penyelidikan dilakukan pihak internasional," katanya di Naypyidaw, seperti dilansir dari laman the Guardian.

"Kami juga prihatin. Kami ingin mencari tahu apa masalah sebenarnya. Ada tuduhan demi tuduhan dan kami harus mendengarkan semuanya. Kami harus memastikan tuduhan itu didasarkan pada bukti kuat sebelum bertindak," lanjutnya.

Selain itu, Suu Kyi juga menyatakan bahwa mayoritas warga muslim Rohingya tidak terkena dampak kekerasan yang terjadi di desa-desa mereka. Meski bukti menunjukkan bahwa telah terjadi pembunuhan dan pembakaran oleh pasukan pemerintah, namun Suu Kyi berdalih dengan mengatakan pihaknya telah memerintahkan pasukan militer agar menahan diri demi menghindari tragedi.

Suu Kyi telah menerima banyak kritikan dari pihak internasional, khususnya dari kalangan sesama pemenang nobel perdamaian. Mereka menilai bahwa Suu Kyi seakan mendukung pasukan pemerintah melancarkan serangan demi serangan terhadap warga muslim Rohingya.

Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut ini sebagai bukti nyata tentang pembersihan etnis. Namun Suu Kyi membantah dengan mengatakan bahwa ada "teroris" yang berada di balik situasi saat ini.

4. Robert Mugabe

Indonesia pernah punya seorang Suharto. Rezim yang berkuasa 32 tahun kemudian akhirnya lengser. Zimbabwe punya Robert Mugabe. Presiden selama 37 tahun itu akhirnya mengundurkan diri pada 22 November lalu.

Mugabe berkuasa sejak 1980. Kejatuhan pria 93 tahun itu dipicu ketika dia memutuskan memecat Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa, demi memberikan jalan bagi istrinya, Grace, menggantikan kedudukannya menjelang pemilu presiden. Padahal, Mnangagwa dahulunya merupakan pejuang kemerdekaan bersama-sama dengan Mugabe. Keduanya juga anggota partai penguasa, ZANU-PF.

Militer mendesak Mugabe supaya meletakkan jabatan, demi pergantian kepemimpinan bisa berjalan tanpa harus terjadi pertumpahan darah.

Rakyat Zimbabwe yang sudah muak dengan kepemimpinan Mugabe yang dituding banyak korupsi berunjuk rasa meminta Mugabe turun dari jabatannya.

Warga juga tidak suka dengan istri Mugabe karena catatan hitam Grace, mulai dari gelar palsu yang didapat hanya sebulan sampai hobi belanja barang mewah. Bahkan dia mendapat julukan 'DisGrace' atau 'Gucci Grace' karena doyan belanja.

Karena desakan kuat dari berbagai pihak Tepat tanggal 22 November 2017, Mugabe akhirnya menyatakan mundur dari jabatannya. Pernyataan pengunduran dirinya dibacakan oleh Ketua Parlemen Jacob Mudenda saat parlemen tengah membahas pemakzulan Mugabe.

Menurut Mudenda, Mugabe menyampaikan pengunduran dirinya lewat surat dan mengatakan alasan dirinya lengser demi 'kesejahteraan rakyat Zimbabwe dan pemindahan kekuasaan secara damai lebih penting'.

"Saya, Robert Gabriel Mugabe, secara resmi mengundurkan diri dari Presiden Republik Zimbabwe saat ini juga," demikian pernyataan Mugabe dalam surat itu.

5. Pangeran Muhammad bin Salman

Usianya baru 32 tahun. Tapi dia sudah menjadi putra mahkota Kerajaan Arab Saudi. Pangeran Muhammad bin Salman atau media asing sering menyingkatnya menjadi 'MBS' menjadi tokoh muda yang dinilai banyak kalangan akan menjadi pendobrak nilai-nilai yang selama ini bertahan di Saudi dan akan membawa Negeri Petro Dolar itu ke arah lebih modern dan mengikuti zaman.

MBS sempat berikrar akan mengubah Saudi menjadi negara Islam moderat. Dalam sebuah konferensi investasi di Ibu Kota Riyadh Oktober lalu, MBS mencetuskan Visi 2030 bagi Saudi dengan mengatakan negara itu akan menjadi lebih toleran berlandaskan Islam sebagai konstitusi dan modernitas sebagai praktiknya.

"Kami hanya ingin kembali ke asal: Islam moderat yang terbuka kepada dunia dan semua agama," kata dia, seperti dilansir laman Middle East Eye, Sabtu (28/10). "Kami tidak akan menyia-nyiakan waktu 30 tahun mengurusi ide ekstremis. Kami akan hancurkan ide itu sekarang."

Pidatonya itu sontak mendapat tepukan hangat dari para hadirin dan diulas dalam satu halaman depan koran Inggris The Guardian.

Dia juga disebut-sebut sebagai orang di balik kebijakan Raja Salman yang mulai tahun depan membolehkan kaum wanita mengemudi kendaraan seperti mobil dan truk serta mengizinkan bioskop kembali beroperasi setelah beberapa dekade dilarang. Kebijakan yang terbilang cukup revolusioner di negeri yang selama ini melarang kaum wanita menyetir sendiri.

MBS juga adalah ketua dari Komisi Pemberantas Korupsi Saudi yang belum lama dibentuk. Dalam gebrakan pertamanya dia menangkap sejumlah pangeran tajir dan mantan menteri serta pengusaha atas tuduhan korupsi.

Sejumlah sumber mengatakan dia membuat kesepakatan kepada para tahanan itu: jika ingin bebas maka mereka harus menyerahkan sejumlah kekayaan mereka kepada negara.

Perekonomian Saudi cukup terpukul dengan harga minyak dunia yang belakangan cukup rendah. MBS rupanya mengambil langkah kontroversial untuk memperbaiki keuangan negara dengan menangkapi para pangeran kaya.
Thomas Loren Friedman, wartawan sekaligus penulis buku dan pengamat globalisasi serta isu luar negeri asal Amerika Serikat pernah mewawancarai MBS sebanyak dua kali.

"Dia sosok muda yang tergesa-gesa. Semangatnya untuk reformasi cukup tulus. Dukungan kaum muda di negaranya cukup signifikan dan keinginannya melakukan perubahan radikal di Arab Saudi cukup kuat," ujar Friedman.

Bin Salman sudah berjanji akan mengubah Saudi menjadi lebih Islam moderat dengan mengurangi peran polisi syariah dan mengizinkan perempuan mengemudi. Ini perubahan besar. Dia berani menantang orang-orang supaya menilai pemerintahannya berdasarkan kinerja seperti dari angka pengangguran, pertumbuhan ekonomi, jaminan kesehatan dan perumahan, bukan berdasarkan Alquran atau rasa kasihan.

[mdk/pan/rki]

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera