Pendidikan

Pendidikan

Cerita keseruan Kapolri bermanuver dengan Sukhoi bersama para Jenderal TNI

JAKARTA -- Rabu (20/12) bakal menjadi hari yang akan selalu diingat Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Hari masih pagi saat Tito Karnavian menginjakkan kaki di Bandara Halim Perdanakusuma. Ada yang berbeda dari penampilan Tito. Dia tidak mengenakan seragam korps Bhayangkara. Dengan menenteng helm biru bertulis Kapolri, Tito mengenakan seragam pilot pesawat tempur.

Tito berjalan didampingi ditemani oleh para Jenderal TNI. Mulai dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Mulyono dan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Ade Supandi. Mereka kompak mengenakan kacamata hitam.

Senyum merekah di wajah empat jenderal ini. Mereka berjalan beriringan menuju landasan pacu Lanud Halim Perdanakusuma. Empat unit pesawat Sukhoi menanti para jenderal. Mereka akan terbang bersama bertajuk Honor Flight. Ini bagian dari pemberian wings atau brevet dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) kepada Kapolri, Kasad, dan Kasal.

Sebelum menaiki pesawat Sukhoi berwarna abu-abu, Kapolri terlebih dahulu melakukan foto bersama dengan para Jenderal TNI. Setelah itu, satu per satu para jenderal mulai menapaki tangga yang membawa mereka ke kokpit pesawat Sukhoi.

Selama lebih kurang satu jam, empat pesawat Sukhoi bermanuver di langit Jakarta. Ini pengalaman pertama bagi Tito Karnavian. Tidak tanggung-tanggung, pesawat tempur yang dicobanya adalah yang tercanggih di dunia.

"Ini pertama kali naik pesawat tempur. Jadi 30 menit lumayan ya terbang dan ini saya merasa sangat beruntung karena kalau enggak jadi Kapolri mungkin saya enggak terbang naik sukhoi. Saya merasa bangga sebagai Kapolri dan WNI, betul-betul bisa menikmati terbang bersama Sukhoi," kata Tito di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (20/12/2017).

Usai berkeliling dengan pesawat sukhoi, Tito menceritakan pengalamannya. Dia berbagi kisah serunya bermanuver dengan pesawat tempur TNI. Bahkan dia tak malu mengaku pusing kepala saat Sukhoi bermanuver di udara. Apalagi dia tidak terbiasa beraksi di udara. Selama bertugas menjadi anggota polisi, Tito selalu beraksi di darat.

"Setelah itu dibawa manuver belok kanan, kiri, ke atas, ke bawah, kepala pusing juga. Tapi mungkin Pak Panglima TNI tidak pusing, kalau saya pusing dikit. Biasa nangkep maling sekarang diajak naik pesawat. Dan 30 menit ini memberi arti bagi saya seumur hidup," ujarnya.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini berkelakar. "Begitu dimanuver kejut sana sini, mulai pusingnya keluar. Untung saja tidak bawa kantong plastik. Enggak deg-degan tapi," ucapnya.

Tito menganalogikan kenyamanan duduk di belakang kemudi pesawat tempur tak ubahnya seperti naik mobil mewah. Apalagi jika tidak sedang meliuk-liuk menembus awan.

"Tapi saya terus terang nyaman naik pesawat ini karena kecepatannya kalau tidak dimanuver, nyantai saja, dia seperti naik mercy (Mercedes Benz) ya. Kalau naik komersial kira-kira naik kijang," ucapnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menjalin hubungan baik dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mulyono dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi dan jajaran TNI lainnya yang selama ini telah terbangun. Keharmonisan dan kekompakan para jenderal ini diharapkan ikut menular pada anak buah mereka di institusi masing-masing. Sebab, tugas berat ada di pundak TNI dan Polri untuk menjaga kedaulatan negara.

"Lebih dari itu, momentum 30 menit ini juga memberi dampak yang luas kepada institusi. TNI dan Polri dua pilar yang paling utama dalam peran menjaga NKRI," tandasnya.

Panglima TNI Marsekal Hadi menambahkan, tujuan utamanya menggelar pemberian wings atau brevet dan mengajak Tito menjajal naik pesawat Sukhoi semata-mata untuk menjaga hubungan TNI-Polri agar semakin baik.

"Tujuan besarnya adalah kita menunjukan bahwa soliditas TNI-Polri yang kita bina selama ini kita pertahankan dan akan semakin kuat," ungkap Hadi.

[mdk/noe/rki]

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera