Pendidikan

Pendidikan

Mereka Kaum Terhormat, Anti "Pelakon Abu-abu"


"DALAM sakit dan sehat, dalam ketidakbahagiaan dan keputusasaan, Don Zeno tetap menjadi teman sejati bagi semua orang." Kata-kata pujian ini diungkapkan oleh seorang kardinal saat pemakaman Don Zeno. 

Seorang Don adalah orang berkedudukan tinggi. Capo de tutti capi. Bos semua bos. Orang yang teramat berkuasa. Seakan tak ada sejengkal tempatpun yang bisa lolos dari kekuasaan seorang Don.

Orang terhormat. Kalangan atas. Elite. Kedudukan ini adalah tempat yang nun di sana. Bukan tempat orang-orang kebanyakan. 

Kedudukan ini membuat mereka seolah begitu mulia. Tak bercacat. Orang hebat tanpa cela. Kalaupun ada bisik-bisik tentang kelakuan kurang patut dari mereka, itu tak lebih dari berita bohong. Sekedar hoaks yang disebarkan oleh lawan-lawan mereka yang dengki. Hanya desas-desus. Sekedar kabar angin. Atau, paling jauh, kicauan para pengacau.

Lelucon, anekdot, meme yang menyindir bolehlah bertebaran di dunia maya. Tapi semua itu bagai suara tanpa bunyi. Tak akan bisa mengubah kedudukan orang-orang terhormat. Bahkan, mungkin, sindiran-sindiran ini membuat orang-orang terhormat ini bertambah cermat dan semakin kuat.

Mereka, kaum terhormat ini, akan mencatat untuk mengukur kekuatan barisannya. Menguji siapa yang taat, siapa yang berkhianat. Bagi kaum ini, kemuliaan mereka akan terjaga, jika dapat dengan pasti menghitung siapa kawan dan siapa lawan. Mereka tak cocok bahkan anti dengan pelakon "abu-abu". Bagi mereka hanya ada dua pihak. 

Penghianatan merupakan sesuatu yang tabu, tak boleh didekati, bahkan haram. Mereka yang berkhianat akan mendapatkan hukuman yang melampaui batas yang bisa dibayangkan si penghianat. Dalam tradisi gerombolan kaum terhormat ini mereka mengenal hukum tutup mulut. Kesetiaan adalah kehormatan. Penghianatan adalah serendah-rendahnya martabat. Derajat dan pangkat sangat bergantung pada seberapa kuat seseorang merawat kesetiaan. Penghianatan adalah sesuatu yang dilaknat. Kesetiaan hanya tanpa syarat. 

Pada hukum tutup mulut inilah ketaatan dan ketakutan akan bersekutu. Pengikut tak sekedar harus sepaham, jika ia tak kuat, dengan sekejap dapat menjadi penjilat. Mereka akan taat dan rela menghindari pendapat yang berbeda demi meraih ponten dari sang Don. Agar tetap selamat, akal sehat akan segera dilipat dalam pat-gulipat. 

Kesaktian orang-orang terhormat ini memang tak terperi. Mereka bisa membolak-balikkan keadaan. Kekuasaan mereka melampaui akal sehat. Bahkan, terkadang, sakit mereka adalah siasat. 

"Ada orang-orang terhormat yang menghabiskan seumur hidup mereka untuk melakukan penipuan terbesar seumur hidup." Kalimat ini disampaikan oleh Pryor. Ia adalah satu di antara dari tokoh rekaan Mario Puzo dalam "Omerta".

Alhasil, kisah ini hanya rekaan. Kalaupun ada kemiripan, dalam beberapa hal, kisah ini hanya ada di belahan dunia sana. Di sini, di negeri, kisah ini tak terbayangkan. 

# Disarikan dari tulisan Dadang Rhs / Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID

Sumber: http://m.rilis.id/omerta-menguji-ketaatan.html





AMOI # aliansi media online & telekomunikasi Indonesia

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera