Pendidikan

Pendidikan

Berdamai Dengan Masa Lalu

JAKARTA -- Dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Agus Widjojo muda terbangun. Kaget. Mendengar suara teriakan dan derap sepatu boot Pasukan Tjakrabirawa. Ayahnya, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dibawa dan ditemukan tewas di Lubang Buaya, Jakarta.

Agus masih ingat betul. Kala itu dia masih berumur 18 tahun, baru saja lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun masih tidak memahami peristiwa tersebut.

Ketika penggerebekan, kata Agus, tidak ada perlawanan dari keluarga. Karena ayahnya tidak memiliki pengawal khusus. Juga tidak menyimpan senjata sepucuk pun. Ayahnya lalu keluar. Mengikuti perintah Tjakrabirawa. Belakangan dia mendapat cerita dari sang ibu. Brigjen Sutoyo dijemput karena dipanggil Presiden Soekarno, tetapi tidak bisa menunjukkan surat perintah.

Keesokan harinya, Agus membaca surat kabar harian. Memberitakan penculikan tujuh perwira Angkatan Darat tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Pemberitaan masih dalam nuansa dikaitkan dengan kondisi revolusi pada waktu itu. Adanya benturan politik Partai Komunis Indonesia dan tentara angkatan darat..

Malam sebelum tragedi kelam, aktivitas keluarga masih berjalan normal. Agus masih ingat, sekeluarga habis menghadiri pernikahan saudara. Semua lelah. Dia langsung masuk kamar dan langsung tidur. Tidak ada perbincangan khusus antara Agus dan Sutoyo malam itu.

Sudah 52 tahun peristiwa nahas itu berlalu. Sebagai putra sulung, dia sudah memikirkan hal terburuk di masa depan. Setelah ayahnya sebagai kepala keluarga telah tiada. Apalagi dia dua adik. Satu perempuan dan laki. Tetapi dia tak mau menyerah. Agus ingin mengejar cita-citanya. Dia lebih banyak berpikir bagaimana membangun masa depan berdasarkan kemampuan tanpa harus memberi beban.

"Dari pertimbangan itu kemudian saya mengambil keputusan. Yang terbaik untuk saya adalah menjadi tentara," kata Agus, Selasa pekan lalu.

Agus memilih jalur militer. Menjadi perwira. Saat itu juga dia baru mengetahui soal peristiwa kelam G30S. Mencari informasi dari berbagai surat kabar umum. Sekaligus mengandalkan pelbagai sumber informasi. Kemudian dia telaah dan analisis.

Memilih jalur tentara bukan pilihan Agus untuk balas dendam. Meski begitu, hati kecilnya masih penasaran. Ingin tahu siapa otak utama pembunuh ayahnya. Alasan apa dibunuh dan bagaimana cara membunuhnya. Namun, belakangan dia lebih ingin mewujudkan rekonsiliasi antar korban kekejaman 1 Oktober 1965.

Bisa dikatakan Agus merupakan salah satu anak jenderal Pahlawan Revolusi dapat menerima kejadian kelam itu. Usaha rekonsiliasi beberapa kali dilakukan. Di antaranya Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) dan Simposium'65. Namun acara Simposium'65 di Hotel Arya Duta, Jakarta tahun lalu, itu tak sepenuhnya berhasil. Lantaran didemo banyak kelompok massa.

Keinginannya mewujudkan rekonsiliasi setelah melewati pelbagai pengalaman. Ketika itu dia mendapat sebagai komisi perdamaian Timor leste dan Indonesia. Mulai dari situ, Agus melihat adanya rekonsiliasi perdamaian kedua belah pihak sedang bertikai.

"Dari situ saya melihat bahwa perdamaian adalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah pertikaian. Saya memutuskan untuk segera berdamai dengan keluarga pelaku dan juga keluarga korban tahun 65," ungkap Agus.

Mempunyai sikap rekonsiliasi memang tak mudah. Agus menyadari masalah itu. Bagi dia, itu merupakan tingkat tertinggi dalam pemahaman manusia. Sebab manusia harus melewati proses berdamai dengan dirinya terlebih dahulu. "Rekonsiliasi itu sendiri baru bisa dipahami jika seseorang sudah berdamai dengan dirinya sendiri."

Dalam karir militer, Agus menurunkan sifat ayahnya. Banyak masalah mampu dia selesaikan dengan tangan dingin, tanpa kekerasan, dan penuh kedamaian. Sebagai anak Pahlawan Revolusi, tidak mudah membawa nama baik keluarga. Agus mengaku hanya itu mampu dia persembahkan untuk almarhum Brigjen Sutoyo Siswomiharjo.

Di tempat berbeda, kami juga menemui Nani Surrachman Sutoyo. Dia adik perempuan Agus. Nani punya pengalaman sendiri bagaimana terakhir kali melihat sosok ayahnya tanpa tegur sapa.

Sebelum peristiwa kelam 1 Oktober 1965, sehari sebelumnya perasaan Nani mulai tak keruan. Saat itu, umur Nani baru 15 tahun. Pikirannya ingin selalu pulang. Ketika itu Nani tengah dititipkan ke rumah pamannya di kawasan Cikini. Sebab rumah dinas Brigjen Sutoyo sedang direnovasi.

Rasa ingin pulang terus menghantui sejak berada di sekolah. Pulang sekolah, Nani tidur siang. Sudah menjadi kebiasaannya. Dia terbangun. Matahari sudah tenggelam. Perasaannya makin ingin kembali ke rumah. Tanpa pikir panjang, Nani segera berkemas dan pulang ke rumahnya di Jalan Sumenep No 17, Menteng, Jakarta.

Sesampai di rumah, dia tidur di kamar bersama Agus. Malam semakin larut. Pada dini hari, dia dan kakaknya terbangun. Kaget. Kejadian selanjutnya persis seperti dialami Agus.

Setelah peristiwa berdarah itu, pemerintah menghentikan proses pendidikan selama 4 bulan. Keluarga Sutoyo pun meninggalkan rumah dinasnya di Menteng. Lalu pindah ke kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Di kediaman saudaranya.

Nani sejak muda memang suka membaca. Sepeninggalan ayahnya, banyak buku dibaca. Dari situ, Nani menyimpulkan bahwa dirinya mengalami trauma. Dan tak seorang pun membantu dia keluar dari keterpurukannya. Padahal, kata dia, seharunya para korban selaiknya mendapatkan pendampingan psikologis pasca peristiwa itu. Namun, tabu buat budaya Indonesia. Sebab membuat proses pendampingan korban bukan hal penting.

Nani masih ingat pasca tragedi 1965. Tak ada kata trauma bagi para korban. Semua terkungkung dalam sebuah tradisi menekankan rasa sedih, duka dan marah tak elok untuk diperlihatkan. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan semua kekesalan, amarah, dan kebencian terpendam selama puluhan tahun. Termasuk dirasakan ibu dan para saudaranya.

"Jadi kita masing-masing di rumah sibuk dengan kesedihan, kemarahan dan kebingungan sendiri. Suatu hal yang sebetulnya menurut saya tidak seharusnya didiamkan," ungkap Nani kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu.

Proses panjang dilalui Nani. Sendiri. Selama puluhan tahun. Trauma berkepanjangan itu akhirnya membawa Nani mendalami ilmu psikologi. Setelah lulus SMA, dia langsung melanjutkan perguruan tinggi di Universitas Indonesia. Perlahan trauma itu hilang. Seiring berbagai ilmu didapatnya selama kuliah. Setidaknya selama 22 tahun, Nani merehabilitasi dirinya sendiri.

Mendalami psikologi menjadi obat ampuh mendamaikan dirinya dengan masa lalu. Saat itu ada banyak pertanyaan dalam dirinya. Dari mempertanyakan alasan pecahnya tragedi 1965, maupun alasan masyarakat saling membunuh hanya demi sebuah jabatan. Namun sejarah itu pun harus kembali dipilah. Dilihat dari sudut pandang siapa cerita itu dibuat.

"Saya tidak belajar psikologi, tapi saya mengalami masalah-masalah kejiwaan terlebih dulu sebelum saya belajar," ungkap Nani.

Sederet pengalamannya, perlahan membawa Nani pada titik perdamaian dengan dirinya sendiri. Dia mengaku telah berdamai dengan masa lalunya. Keberanian dan keyakinan inilah nantinya mengantarkan pada titik melihat dan memandang pihak lain sebagai sesama manusia.

Rekonsiliasi baginya bermakna pada perdamaian antara diri sendiri dengan masa lalu. Bila dalam kehidupan masih terhalang pelbagai perasaan amarah dan banyak hal destruktif, artinya masih berkutat pada tuntutan kebenaran. Maka itu, proses komplek harus dilalui dan akan berdampak pada mentalitas. Mampu tidaknya seseorang melewati tahapan itu menjadi kunci dari perdamaian dengan diri sendiri. Keadaan ini pula membawa Nani dan Agus memilih untuk membebaskan diri dari trauma berkepanjangan. Keduanya kini telah bisa melihat tragedi 65 secara lebih luas.

Perasaan untuk melakukan rekonsiliasi juga dirasakan Catherine Pandjaitan. Dia putri Mayjen TNI Anumerta Donal Isaac (DI) Pandjaitan, satu-satunya Pahlawan Revolusi gugur memakai seragam militer lengkap.

Harus diakui, kata Catherine, berdamai dengan diri sendiri bukan jalan mudah. Peristiwa mencekam itu membuatnya depresi selama 20 tahun. Banyak pertanyaan dalam dirinya tak bisa terjawab siapapun. Dia berulang kali cerita kepada orang di sekelilingnya. Namun itu tak pernah berhasil. Menjawab pelbagai pertanyaan dalam benaknya.

Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mendatangi psikiater. Oleh sang dokter diminta untuk keluar dari rumahnya. Di mana lokasi itu dia melihat langsung ayahnya ditembak mati pasukan Tjakrabirawa. Lantas darah ayahnya dibasuh ke wajah Catherine. Persis seperti digambarkan film Pengkhianatan G30S PKI.



Dia berusia 17 tahun ketika kejadian. Saran dokter pun dilakukan. Catherine dititipkan kepada rekan ayahnya merupakan duta besar Indonesia di Swiss. Dia berpindah sekolah dari Tarakanita ke Swiss. Selama di Eropa, dia mengaku kehilangan gairah tanpa sosok ayah. Bahkan cita-citanya menjadi dokter anak terpaksa pupus.

Pindah ke Eropa tak lekas luka Catherine sembuh. Di sana dia hanya menunaikan kewajibannya untuk bersekolah. Traumanya masih ada. Hingga akhirnya dia menikah dan memutuskan kembali ke Indonesia.

Sekembalinya dari Eropa di tahun 1982, dia bertemu dengan seorang pastur di sebuah gereja. Kembali dia mengungkapkan trauma dan luka hatinya. Hebatnya, kata dia, pastur ini bisa memberikan pencerahan bagi hatinya. Pastur ini dianggap tak hanya memberikan wejangan. Catherine langsung diperlihatkan ayat dalam Alkitab. Semua terjawab dari kegelisahannya selama ini.

"Sejak itu lah saya belajar. Seberat-beratnya masalah kita akan kembali ke agama," kata Catherine, Selasa pekan lalu.

Butuh proses panjang bagi Catherine untuk menghilangkan dendam dan amarah bersarang dalam dirinya itu. Selama proses itu, dia menyadari hal itu tak akan berujung pada sebuah kebahagiaan. Sebaliknya, sengsara dan kehampaan akan didapatkan.

Dalam upaya membangun rekonsiliasi, Catherine ikut bergabung dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Forum itu kumpulan dari anak-anak korban tragedi 65. Mereka terdiri dari anak para jendral Pahlawan Revolusi dan anak PKI. Sudah banyak kegiatan dilakukan selama tergabung dalam forum tersebut. Mulai dari menjenguk salah satu anggota FSAB hingga menghadiri pernikahan Ilham Aidit, putra Ketua PKI Dipa Nusantara (DN) Aidit beberapa waktu lalu di Bandung. Komunikasi di antara mereka berjalan baik. Luka masa lalu, kata dia, sudah tak lagi diungkit.

Catherine sudah berjanji dalam diri. Sepakat tak lagi mewariskan dendam kepada keturunannya. Dia menginginkan perdamaian. Hingga 52 tahun kejadian kelam itu berlalu, sikap Catherine soal rekonsiliasi semakin matang. "Tuhan suka dengan kedamaian."

[mdk/ang/rki]

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera