Pendidikan

Pendidikan

Perempuan Cantik Korban Pembunuhan Sadis Itu Kerap Tak Pulang ke Rumah


PASURUAN, JATIM -- Mata Ariyanto, ayah korban pembunuhan di areal persawahan Purwodadi, Pasuruan, Eka (16) sebelumnya disebut EY, tampak merah dan berkaca-kaca.

Ia baru kembali dari RS Bhayangkara Porong ketika ditemui di kediamannya, di Dusun Kalisuko Desa Sumber Suko Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, Rabu (27/9/2017).

Dengan nada suara pelan, ia menceritakan kronologis ketika ia mendapatkan kabar tentang kematian tragis putri sulungnya.

"Semalam pukul 19.30 WIB itu saya dapat kabar dari Facebook dan kiriman tetangga tentang korban pembunuhan dan pemerkosaan di Purwodadi. "

"Awalnya fotonya tidak begitu jelas karena bagian wajah tertutup darah. Kemudian dikirimi lagi oleh tetangga ada gambar wajah yang lebih jelas, baru kelihatan bahwa itu adalah anak saya," cerita Ariyanto.

Ia merasa yakin lewat foto yang ia dapatkan karena ada ciri-ciri yang cocok dengan Eka. Antara lain adanya bekas cacar di bagian siku tangan.

Sekitar pukul 21.30 WIB, Ariyanto sampai di Polsek Purwodadi dan diarahkan untuk memastikan jenazah ke RS Bhayangkara Porong.

"Saat itu sudah dilakukan otopsi luar dan akan dilakukan otopsi dalam atas persetujuan saya. Awalnya saya menolak otopsi dalam, namun oleh pihak Polsek Lawang saya disarankan menyerahkan pada Polsek Purwodadi. Sehingga saya menyetujui otopsi dalam," ujarnya.

Ariyanto sama sekali belum bertemu dengan sang putri sejak Agustus lalu. Pekerjaan proyeknya mengharuskan ia berada di Jakarta hingga Minggu (24/9/2017) lalu.

"Terakhir saya kontak dia saat ada hajatan keluarga di Blitar tanggal 15 September kemarin. Posisinya saat itu Eka sudah lama tidak pulang ke rumah, tapi saya dikabari ibunya bahwa dia datang ke Blitar," tutur Ariyanto.

Saat itu, Ariyanto meminta bicara dengan Eka lewat sambungan telepon.

"Ketika itu saya minta dia stay di rumah saja, bantu ibu dan jaga adik. Saat itu dia menangis. 

Saya sarankan juga cari kerja lagi jaga toko di Pasar Lawang. Kebetulan masih ada saudara yang punya toko, nanti bisa saya mintakan kerjaan," cerita dia.

Pihak keluarga yang baru mengetahui kabar kematian Eka lewat sosial media Facebook Selasa (26/9/2017) malam, sebelumnya tidak menduga kepergian putrinya sehari penuh berujung pada kabar duka.

Selama ini remaja putri yang tak lagi melanjutkan sekolah setelah lulus SMP itu memang kerap tak pulang ke rumah tanpa pamit.

Berikut ini kronologis pertemuan dan kepergian Eka dari rumah selama ini sebelum akhirnya ditemukan tewas di persawahan di Purwodadi Pasuruan dari pihak keluarga:

27 Agustus 2017 - Korban, Eka pergi tidak pamit ke orangtua. Diduga ikut balapan motor bersama teman-temannya.

15 September 2017 - Eka belum pulang ke rumah namun datang ke hajatan keluarga di Blitar. Di sana bertemu dengan ibu dan adiknya.

15-18 September 2017 - di rumah neneknya di Bedali, Lawang.

18 September 2017 - pulang ke rumah. siang hari pamit ke warnet. malam ketahuan berada di rumah teman di dekat Pasar Lawang, lalu tidak pulang sampai ditemukan meninggal dunia.

26 September 2017 - 19.30 WIB sang ayah, Riyanto mendapat kabar dari Facebook dan tetangga tentang kematian putrinya.

 -jam 21.30 ke Polsek Purwodadi dan RS Bhayangkara Porong untuk memastikan jenazah. Riyanto memastikan korban tewas adalah benar putrinya.

Seperti dberitakan sebelumnya korban Eka ditemukan dalam kondisi mengenaskan di areal persawahan.

Saat ditemukan polisi belum bisa menentukan identitasnya.

Kini polisi masih memburu pelaku pembunuhan. 

(sym/bin)




AMOI # aliansi media online & telekomunikasi Indonesia

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera