Pendidikan

Pendidikan

Komnas Anak Kutuk Aksi Keji "Bondon" di Pasuruan


BANDAR LAMPUNG -- Komisi Nasional Perlindungan Anak yang selanjutnya disebut Komnas Anak mengutuk keras pembunuhan keji dan  sadis terhadap NPN (15) warga  Malang,  Jawa Timur.

Pembunuhan sadis yang diawali dengan kekerasan seksual, lalu korban  dicekik, memukul kepala korban dengan menggunakan sebatang kayu dan menusuk kedua mata korban hingga hancur dengan kayu. 

Perbuatan sadis dan tidak berprikemanusiaan ini diduga dilakukan oleh MMH alias "Bondon" (21) disalah satu gubuk yang terletak di salah satu persawahan di Dusun Paritenap, Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan.

"Pelaku sadis hingga menghilangkan secara pak hak hidup korban MPN, 15, berdasarkan ketentuan UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang penerapan Peraturan  Pengganti Undang-undang (Perpu) No. 01 Tahun 2016 mengenai perubahan kedua UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bila terdapat bukti yang kuat  pelaku MMH dapat diancam hukuman 20 tahun, seumur hidup bahkan hukuman mati serta terancam  hukuman tambahan Kebiri (Kastrasi) melalui suntik kimia".  

Mengingat perbuatannya sudah tergolong sadis, keji dan biadab, tersangka MMH juga dapat dikenakan ancaman ketentuan pasal 82 ayat 1, 3 dan 4 UU RI No. 35 Tahun 2014 junto UU RI No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Demikian disampaikan Ketua Umum Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, dalam keterangan persnya di Bandar Lampung, Kamis (28/09/17), sebelum mengisi acara Seminar Nadional Memutus Mata Rantai kekerasan terhadap anak yang diselenggarakan pemerintahan kota Metro Lampung.

Arist menambahkan,  untuk memberikan dukungan dan penguatan kepada keluarga korban, Komnas Perlindungan Anak selaku lembaga pelaksana tugas dan fungsi keorganisasian dari Perkumpulan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pusat mendorong dan memberikan dukungan secara penuh sekaligus menugaskan  LPA Pasuruan untuk melakukan pendampingan hukum dan pemulihan (recovery) psikologis kepada keluarga korban. 

Disamping itu,  Kommas Anak berkordinasi dengan LPA Pasurua akan menurunkan relawan investigasi dan tim psikolog Komnas Perlindungan Anak guna memberikan dukungan kepada keluarga dan kepada Polres Pasuruan khususnya kepada tim penyidik Polri dari Polres Pasuruan.

Untuk kerja keras dan cepat Polres Pasuruan mengungkap kasus kekerasan seksual diikuti dengan penghilangan hak hidup anak secara paksa dan sadis  yang dilakukan oleh MMH alias "Bondon" dan atas bantuan informasi warga masyarakat dan kerja partisipasi LPA Pasuruan,  Komnas Anak sebagai lembaga independen di bidang perlindungan anak di Indonesia memberikan rasa hormat (respect) dan apreasi terhadap kerja cepatnya, tambah Arist. 

Untuk mendampingi keluarga korban menghadapi peristiwa biadab ini penegakan dan kepastian hukum bagi keluarga korban, Dewan Komisioner Komnas Anak meminta sekaligus menugaskan LPA Pasuruan untuk segera mengupayakan langkah-langkah pendampingan dan advokasi hukum bekerjasama dengan Polres Pasuruan dan para pegiat dan  pemangku kepentingan (stakeholders) perlindungan di Pasuruan agar Polres Pasuruan tidak ragu  menerapkan UU RI No. 17 Tahun 2016 junto ketentuan padal 82 UU RI No. 35 Tahun 2014 dan UU RI No. 35 Tahun 1999 tentang HAM. 

Oleh sebab itu, untuk menghentikan kasus pelanggaran terhadap anak dan  memberikan kepastian hukum bagi korban dan keluarga korban  diperlukan  proses hukum yang cepat dan tidak bertele-tele dan kepastian penegakan hukum, imbuh Arist.

(rel/ede)




AMOI # aliansi media online & telekomunikasi Indonesia

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera