Pendidikan

Pendidikan

Saracen dan Sejarah Berita Hoaks Sejak Era Perang Dunia II

POLRI menangkap tiga pentolan sindikat Saracen pada 23 Agustus lalu. Kasus ini menguak fenomena bisnis dengan menyebarkan berita bohong bernuansa suku, agama, ras di media sosial.

Penyebaran berita bohong atau hoaks di media sosial yang dilakukan sindikat Saracen ini berdasarkan pesanan. Sindikat tersebut sangat teroganisir. Bayangkan, untuk menyebarkan berita bohong, mereka sampai menggunakan 800 ribu akun.

Modusnya hampir sama seperti bisnis jasa kebanyakan. Saracen yang beraksi sejak November 2015 tersebut mengirimkan proposal kepada sejumlah pihak. Isinya, mereka menawarkan jasa penyebaran ujaran kebencian bernuansa SARA di media sosial.

Dari hasil penyelidikan forensik digital, terungkap sindikat ini menggunakan grup Facebook - di antaranya Saracen News, Saracen Cyber Team, dan Saracennews.com. Dan, ada loh yang menggunakan jasa mereka.

Presiden Joko Widodo menekankan, siapa yang memesan berita bohong itulah yang penting untuk diungkap. Dia mengaku sudah memerintahkan Kapolri untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

"Bukan hanya Saracen-nya saja. Tapi siapa yang pesan, siapa yang bayar, harus diusut tuntas. Bukan hanya yang ada di organisasi itu, tetapi siapa yang pesan, yang penting di situ," tegas Presiden, seperti dikutip dari laman Setkab.go.id.

Bukan Tema Baru

Berita palsu atau fake-news dan juga hoaks ini bukan tema baru dalam sejarah peradaban manusia.
Dikutip dari laman, nu.or.id Warsa Suwarsa menulis, berita bohong dan propaganda ini sudah digunakan ketika Perang Dingin (Cold War) dua blok Amerika Serikat dan Uni Soviet --sekarang namanya Rusia. Warsa adalah guru dan anggota PGRI Kota Sukabumi.

Ketika itu, dua kelompok tersebut gencar memproduksi berita-berita palsu dengan tujuan meyakinkan kepada satu pihak, namun memukul pihak lawan.

Saat Perang Dunia II, kekalahan Nazi dari pasukan sekutu tidak terlepas dari adanya berita hoaks yang disebarkan oleh agen-agen sekutu. Meletusnya dua kali perang dunia itu juga dipicu informasi tidak terpercaya. Perang itu diyakini tidak semata disebabkan oleh rebutan kekuasaan.

Hollocaust atau peristiwa pembantaian 6 juta orang Yahudi yang dilakukan secara sistematis yang dilakukan oleh tentara Nazi terhadap komunitas Yahudi, sampai saat ini masih merupakan misteri. Propaganda anti Yahudi (anti-semit) pun merupakan pemicu meletusnya perang dunia satu dan dua.

Roger Garraudy, seorang pengarang Prancis yang tidak percaya dengan peristiwa Hollocaust itu menyebut Hollocaust hanya merupakan propaganda anti-semit (anti Yahudi), sebenarnya dihembuskan oleh sebuah grand design agar terjadi eksodus besar-besaran bangsa Yahudi ke tanah harapan--Palestina.

Kemudian yang menjadi persoalan besar di abad ini, kebohongan tersebut menyebar lewat teknologi media. Berita palsu itu dikemas dikemas menyerupai fakta sesungguhnya. Seperti yang dilakukan oleh sindikat Saracen tadi.

Zaman dulu fake news disebarkan melalui teks dan gambar yang disebar melalui selebaran. Sekarang, berita palsu kini disajikan secara audio visual dengan mengecoh persepsi dan memelintir logika.

Di era internet, berita-berita hoaks dan isu-isu kebencian dengan sangat mudah diproduksi dan dengan sangat cepat dapat menyebar, lalu diserap oleh masyarakat.

Dalam sejarah perkembangan media massa, masyarakat pasti pernah mengenal yellow journalism, atau di Indonesia akrab dengan sebutan 'koran kuning'. Media-media tersebut melakukan propaganda kepada masyarakat.

Yellow journalism ini bukan memperhatikan kebenaran konten berita, melainkan oleh seberapa besar judul dalam pemberitaan dapat menarik minat pembaca. Korang kuning ini biasanya ditandai dengan menyajikan judul yang panjang, seolah mewakili konten berita.

Yellow journalism ini sangat gampang tumbuh subur di Tanah Air. Penyebabnya adalah minat membaca bangsa kita masih jauh di bawah negara-negara maju. Maka dari itu, judul berita yang panjang tersebut langsung ditafsirkan sebagai sesuatu yang benar.

Kelompok Saracen, para penebar berita hoaks dan penebar kebencian memanfaatkan celah itu untuk melakukan propaganda, mengecoh persepsi dan memelintir logika.

1. Makna di Balik

Apabila ditelisik, Saracen ini bisa jadi merupakan akronim dari "Sara-Central" dan bisa diartikan sebagai "pusat pengelola berita-berita SARA." Kedua, "saracen" secara linguistik mengacu kepada kata-kata yang telah lama dikenal oleh masyarakat Eropa terhadap Islam.

Jika ditelaah melalui pendekatan bahasa, pada abad pertengahan, kata "saracen" telah digunakan oleh masyarakat Eropa untuk menunjukkan orang-orang Islam yang tinggal di gurun atau jazirah Arab.

Saat Perang Salib, sebutan Saracen disematkan oleh masyarakat Eropa kepada tentara Islam yang dihadapi oleh tentara Kristen di Yerussalem.

Secara etimologi, kata "saracen" sendiri berasal dari "saaraqin" yang berarti "perampok atau begal." Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kebiasaan masyarakat gurun merampok para kafilah dagang yang melintasi wilayah mereka.

Pada abad ke-4 sebelum Masehi, orang-orang Yunani menyebut Sarakene kepada masyarakat yang tinggal di utara Sinai. Ada juga yang menderivasikan kata "saracen" berasal dari Syarakah, klan, kelompok masyarakat, atau komunitas.
Kata lain sebagai sumber dari Saracen adalah "syrq," berarti orang-orang Timur karena secara geografis, masyarakat ini tinggal di sebelah timur dari wilayah Eropa.

Memenggal informasi

Kejahatan intelektual seperti ini merupakan kebiasaan kelompok radikal atau ekstrimis dari agama mana saja. Sebagai contoh kejahatan intelektual dari kelompok ini: mereka dapat menjiplak buku siapa saja terus dipotong-potong agar sesuai dengan tujuan yang mereka harapkan.

"Hal yang menyedihkan dengan terbongkarnya kelompok Saracen ini, mereka merupakan kelompok Islam. Agama yang telah memberikan arahan yang jelas kepada manusia dalam menyikapi isu dan pemberitaan. Ber-suudzan tidak boleh bahkan dzan atau berprasangka saja sangat dilarang oleh Islam," tulis Warsa Suwarsa.

Dia menilai, kejahatan dengan memotong informasi hingga dihasilkan informasi sekunder telah dapat memecah belah umat sendiri.

Konsentrasi pemberitaan para penebar hoaks ini bukan hendak membuka kebenaran secara obyektif, melainkan menyajikan aib dan kejelekan pihak yang diberitakan. "Secara psikologis, manusia akan lebih bersemangat membaca isu dan gosip kejelekan orang lain daripada membaca informasi keilmuan dan keIslaman," tulis Warsa.

Keberadaan penebar hoaks, menurut Warsa, tidak hanya dilakukan kelompok Islam garis keras saja, tapi dilakukan juga oleh agama-agama lain dan kelompok manapun.

Hal ini terjadi karena semakin terbukanya media-media dan semakin mudahnya media dikelola melalui sistem online. "Di zaman yang serba online ini, siapa saja dapat memproduksi berita dengan jujur atau berbohong," tulis Warsa.

2. Perkara Serius di Abad 21

Majelis Etik Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) sekaligus Pemimpin Redaksi thejakartapost.com, Nezar Patria menyebut soal berita bohong atau fake news ini merupakan perkara serius di abad 21 ini.

Menurut dia, kebohongan menyebar lewat teknologi media telah dikemas menyerupai fakta sesungguhnya. Bukan hanya teks, berita palsu kini disajikan secara audio visual dan menampilkan 'kebenaran' dengan mengecoh persepsi, menipu indera, dan juga memelintir logika.

"Berita bohong telah dipakai untuk menggosok emosi, sentimen politik atau agama, yang lalu diterima tanpa kritik sebagai sebuah kebenaran oleh sekelompok orang," kata Nezar dalam keterangan tertulis yang diterima Otonomi.co.id.

Menurut dia, dalam skala tertentu berita palsu sengaja diproduksi guna memperparah ujaran kebencian, memicu konflik sosial dan bahkan perang. Gejala ini, dan ihwal berita palsu menyebar dengan begitu meyakinkan, dikenal sebagai gejala 'Post-Truth'.

Nezar mencontohkan, video Donald Trump menyerukan perang terhadap Korea Utara, atau foto tentang pembantaian Muslim Rohingya oleh pendeta Budha di Myanmar misalnya.

Kata dia, meski pun ada ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara, tapi Trump tampaknya belumlah segila itu membangkit kengerian orang akan perang nuklir yang bakal membuat seisi bumi pralaya.

Kemudian soal ketegangan memburuk antara Muslim dan Budhis di Myanmar, tak serta merta berujung kepada pembantaian sesadis digemborkan foto palsu itu.

 "Ada karakter khas dari fake-news: Ia selalu menumpang pada fakta dari peristiwa yang melingkupinya. Distorsi atas fakta itu lalu membangun persepsi, seolah-olah memang ada peristiwa sesungguhnya, dan dikemas melalui olahan teknologi canggih," ujarnya.

Nezar menyebut, rekayasa tak sebatas foto yang kini terasa ketinggalan dan kurang nancep bohongnya. "Namun lebih dahsyat lagi memakai manipulasi audio visual," kata dia.

Menurut dia, teknologi terbaru dari aplikasi Face2Face yang dikembangkan oleh Universitas Stanford--gudangnya inovasi digital bagi industri di Silicon Valley-- nyaris sempurna memanipulasi video pidato seorang tokoh dengan mengikuti gerak mulut dan suara si orang kedua.

Lebih canggih lagi, dua tahun lalu, dilaporkan bahwa periset di Universitas Alabama di Birmingham, mampu melakukan impersonasi audio alias kloning suara seseorang hanya dalam hitungan menit.

Ketepatan vibrasi pita suara tiruan itu sangat mencengangkan. Dengan temuan itu, mereka dapat mengecoh suara biometrik seseorang untuk menjebol sistem keamanan digital tertentu, misalnya transaksi bank dan telepon seluler.

"Bisa dibayangkan bagaimana fake-news akan semakin digdaya dengan memadukan semua teknologi digital ini, bahkan dengan bantuan kecerdasan buatan, melakukan manipulasi fakta sampai batas yang belum pernah kita bayangkan," jelasnya.

Pihak utama yang bisa menghentikan penyebaran kabar bohong adalah Anda sebagai pembaca dan pengguna media sosial. Berhati-hati dan saringlah informasi sebelum mengklik tombol Share!


(oto/ita/rki)

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera