Pendidikan

Pendidikan

Melacak 'harta karun' bos First Travel

JAKARTA -- Polisi terus mendalami kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan bos perusahaan layanan biro haji dan umrah PT First Karya Anugerah Wisata (First Travel), Anniesa Hasibuan dan Andika Surachman terhadap ribuan calon jemaah umrah. Penyidikan kini fokus pada tahap penelusuran aset milik Anniesa dan Andika yang diduga hasil setoran calon jemaah umrah.

Seperti diketahui, jumlah jemaah promo umrah First Travel sejak Desember 2016 hingga Mei 2017 mencapai 72.682 orang. Seluruh calon jemaah umrah tersebut sudah membayar lunas kepada First Travel.

Namun yang diberangkatkan baru 14 ribu orang. Sisanya 58.682 ribu orang belum diberangkatkan. Jumlah uang jemaah belum diberangkatkan yang masuk ke First Travel total mencapai Rp 848.700.100.000.

Namun hingga kini uang hampir Rp 1 triliun itu belum diketahui dimana keberadaan atau berubah menjadi apa. Saldo yang tersisa dari delapan rekening Firs Travel pun cuma Rp 1,3 juta. Bahkan First Travel justru memiliki utang kepada sejumlah provider yakni provider tiket sebesar Rp 85 miliar, utang kepada provider visa Rp 9,7 miliar dan utang kepada 3 hotel di Arab Saudi sebesar Rp 24 miliar. Jika ditotal sementara utang First Travel mencapai Rp 118,7 miliar.

Polisi pun berupaya melacak aset dan kemana aliran dana First Travel. Hasil sementara polisi menemukan dan menyita sejumlah aset Andika dan Annies yakni empat mobil mewah, rumah di Sentul City Jalan Venesia Selatan Nomor 99, Sumur Batu Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Kemudian rumah tinggal di kompleks Vasa Cluster, Jalan Kebagusan Dalam IV Nomor 5 Kavling D, Pasar Minggu.

Kemudian, rumah kontrakan di Jalan Benda Raya, Gang Bambu Kuning Nomor 15, Cilandak, Jakarta Selatan. Tiga kantor First Travel di Cimanggis, Jalan TB Sumatupang, dan Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, dan butik di Gedung Promenade Nomer 20 Unit F dan G, Jalan Bangka Raya Kemang. Untuk kantor First Travel dan rumah mewah di Sentul City, Bogor, ternyata sudah dijaminkan.

Terbaru, Bareskrim Polri mengendus Andika dan Annies memiliki sebuah restoran mewah di Inggris. Polisi masih melakukan pengecekan dokumen dan aset restoran tersebut. Restoran tersebut diketahui berdiri sejak 2016.

"Sekitar 700.000 pounsterling dia beli," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Herry Rudolf Nahak di Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Selasa (22/8/2017) lalu.

Sementara itu, Kepala Bagian Mitra Divisi Humas Polro Kombes Pol Awi Setiyono menyatakan hingga kini, bukti kepemilikan dari terkait restoran yang berada di London, masih terus ditelisik kebenarannya. Sebab, selama ini munculnya dugaan adanya aset restoran di London hanya muncul dari keterangan dua tersangka Andika dan Anniesa.

"Inget ya itu baru keterangannya tersangka dan itu perlu dibuktikan. Faktanya penyidik belum ditemukan. Kalau memang restoran, bukti kepemilikannya apa? Kalau memang dia punya saham, sahamnya mana? Ini yang belum didapatkan karena masih proses penyidikan," kata dia di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (24/8/2017) lalu.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ikut dilibatkan untuk menelusuri aliran dana First Travel. Penelusuran dilakukan PPATK sejak Juli 2017. Hasilnya, ada beberapa aliran dana calon jemaah umrah yang diinvestasi ke valuta asing (valas).

"Kami lihat paling tidak ada tiga jenis itu. Pertama, uang masuk itu kemudian dia salurkan dalam bentuk rekening lain, ada yang valas, rupiah, pindah lokasi, mendekati bisnis dia yang lain," kata Ketua PPATK, Kiagus Badarudin saat ditemui di kantornya, Kamis (24/8/2017) lalu.

Selain itu, bos First Travel juga menggunakan uang calon jemaah umrah untuk kepentingan belanja terkait bisnis. Beberapa di antaranya untuk belanja tiket, dan juga membayar jasa sewa hotel. Uang First Travel juga dipakai untuk keperluan pribadi Andika, Annies dan Kiki, di antaranya membeli rumah, mobil, dan tanah. Bahkan, ada beberapa uang tersebut digunakan untuk liburan.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mendorong kepolisian membongkar kasus ini, terutama jaringan dan keterlibatan pihak lainnya, salah satunya mitra bisnis First Travel. Fahri curiga Andika Annies dan Kiki memiliki penasihat dan mitra bisnis yang lebih mahir dan mendapatkan untung lebih banyak.

Fahri meminta kepolisian mendalami alur keuangan dari First Travel. Cara itu bisa dilakukan untuk mengetahui siapa saja yang terkait dengan kasus itu selain Anniesa, Andika, dan juga Kiki.

"Saya usulkan polisi untuk betul-betul serius follow the money, menurut saya boleh lah memakai TPPU di sini karena ini nanti yang akan ketemu nanti akan ada mafia yang mengatur uang dialirkan kemana dan mereka ini luar biasa," kata Fahri di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (25/8/2017) kemarin.

Selain itu, Fahri juga meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengawasi investasi dana yang dihimpun dari masyarakat.

"Dan OJK harus agresif lho sudah sekian tahun OJK masak fonzi masih ada ini kan awalnya perdata karena semakin menyangkut banyak orang baru jadi pidana. Tapi OJK harus lebih agresif bahwa investasi itu rasional ga ada bisnis itu irasional," katanya.


[mdk/dan/rki]

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera