Pendidikan

Pendidikan

KPK resmi tetapkan Wali Kota Tegal Siti Masitha tersangka suap

JAKARTA -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan tiga orang tersangka terkait tindak pidana suap pengelolaan dana kesehatan RSUD Kardinah, Tegal. Salah satu dari ketiga tersangka adalah Wali Kota Tegal, Siti Masitha.

"KPK menetapkan tiga orang tersangka atas tindak pidana suap terkait pengelolaan dana kesehatan RSUD Kardinah dan pengadaan alat kesehatan di lingkungan pemerintah kota Tegal tahun anggaran 2017," ujar wakil ketua KPK, Basaria Pandjaitan saat konferensi pers di gedung KPK, Rabu (30/8/2017).

Penetapan tersangka didahului atas operasi tangkap tangan terhadap Siti, Selasa (29/8) sore dan tujuh orang lainnya. Amir, pihak swasta sekaligus orang kepercayaan Siti, dan wakil direktur utama RSUD Kardinah, Cahyo juga ditangkap dalam rangkaian operasi penangkapan tersebut.

Dalam rangkaian itu pula, tim menyita uang tunai sebesar Rp 300 juta di kantor bagian keuangan. Hasil dugaan sementara, Rp 200 juta telah mengalir ke dua rekening milik Amir.

Atas perbuatannya, Siti dan Amir selaku penerima disangkakan telah melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan undang-undang nomor 20 tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan Cahyo selaku pemberi disangkakan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 undang-undang tindak pidana korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Gunakan rompi oranye KPK, Wali Kota Tegal minta maaf


Wali Kota Tegal ditahan KPK. ©2017

Setelah menjalani pemeriksaan selama 1x24 jam, Wali Kota Tegal Siti Masitha keluar dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (30/8/2017). Dia mengenakan rompi oranye yang biasa digunakan seorang tersangka.

Siti ditangkap atas indikasi tindak pidana penerimaan suap terkait sektor kesehatan. Perempuan yang akrab disapa Bunda Sitha ini tidak banyak bicara. Hanya kata hormat dan maaf yang terucap.

"Salam hormat saya untuk masyarakat Tegal yang saya banggakan," ujarnya di gedung KPK, Jakarta.

Politisi Golkar itu juga sempat menyebut nama seseorang yang dituding sebagai pihak yang menjebaknya. Siti memposisikan diri sebagai korban. "Saya korban. Amir Mirza Hutagalung," ungkap Siti saat ditanya wartawan.

Untuk diketahui, Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Selasa (29/8). Dia ditangkap di ruang kerjanya, kemudian sempat dibawa ke rumah dinas Wali Kota, Kompleks Balaikota Jalan Ki Gede Sebayu, Kelurahan Mangkukusuman, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal.


Sejumlah ruangan baik di Kantor Pemkot Tegal maupun di RSUD Kardinah Kota Tegal disegel. Ketiga ruangan itu adalah dua ruangan Direksi RSUD Kardinah Kota Tegal, ruang Direktur RSUD Kota Tegal dan ruang Wakil Direktur Umum serta Keuangan RSUD Kardinah Kota Tegal. Kemudian yang terakhir adalah ruangan ICU RSUD Kota Tegal yang sedang direhab atau dibangun.

Penangkapan Wali Kota Tegal diduga terkait kasus di sektor kesehatan. "Indikasinya di sektor kesehatan dan sejumlah orang-orangnya sedang dibawa ke Jakarta," ujar juru bicara KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Selasa (29/8).
Dia tidak menjelaskan lebih detil terkait kasus yang menjerat Siti. Febri berjanji memberikan keterangan lengkap setelah penyidik menyelesaikan pemeriksaan. Hanya saja dia memberikan bocoran, dugaan sementara, Wali Kota Tegal menerima suap.

"Ada indukasi transaksional di sana. Hasilnya akan kita sampaikan," ucapnya. 

Wali kota Tegal manfaatkan uang suap untuk kontestasi Pilkada

Wali Kota Tegal Siti Mashita resmi berstatus tersangka atas penerimaan suap pengelolaan dana keuangan RSUD Kardinah, Tegal. Siti juga diduga menerima suap terkait pengadaan alat kesehatan tahun anggaran 2017 senilai Rp 3,5 miliar.

Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, dalam rentang waktu Januari sampai Agustus setiap bulannya Siti mendapat setoran bulanan dari tiap kadis terkait proyek pengadaan tersebut.

"Untuk proyek pengadaan alat kesehatan di lingkungan kota Tegal senilai Rp 3,5 Miliar ada pemberian setoran bulanan dari Kadis," katanya saat melakukan konferensi pers, Rabu (30/8/2017).

Lebih lanjut, Siti memanfaatkan uang tersebut untuk membiayai pemenangan politiknya bersama Amir Mirza Hutagalung dalam kontestasi Pilkada Tegal 2019-2024.

Amir sendiri turut tertangkap dalam rangkaian operasi tangkap tangan yang dilakukan satgas KPK, Selasa (29/8) sore.

Keduanya ditangkap karena kedapatan menerima suap sebesar Rp 300 juta dari Cahyo; Wakil Direktur Bagian Keuangan RSUD Kardinah, Tegal. Dengan rincian Rp 200 juta di kediaman Amir dan 100 juta dari dua rekening yang berbeda.

Atas perbuatannya, Siti dan Amir selaku penerima disangkakan telah melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan undang-undang nomor 20 tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan Cahyo selaku pemberi disangkakan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 undang-undang tindak pidana korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Ketiga tersangka juga dilakukan penahanan selama 20 hari ke depan. Terhadap Siti dilakukan penahanan di Rutan KPK, Amir di Rutan Mapolres Jakarta Pusat, dan Cahyo di Pomdam Guntur.


[mdk/noe/rki]

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera