Pendidikan

Pendidikan

Korban Penipuan First Travel di Sumbar Capai 1000 Orang

PADANG – Sumatera Barat rupanya menjadi salah satu provinsi dengan jumlah korban penipuan biro umrah First Travel terbanyak. Dari data yang diperoleh, jumlah korbannya sekitar 1.000 orang, yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota. Untuk menanganinya, Polda Sumbar membuka Posko Pengaduan Korban First Travel, Selasa (29/8/2017).

Baru saja dibuka, sudah belasan korban First Travel yang melapor ke posko yang berada di lantai empat Mapolda Sumbar, Jalan Sudirman, Kota Padang itu.

"Sudah banyak korban yang melapor. Hingga pukul 15.30 WIB, ada sebanyak 15 korban. Kemungkinan, akan banyak lagi yang akan datang ke posko," terang Direskrimum Polda Sumbar, Kombes Pol Erdi Adrimurlan Chaniago.

Para korban yang melapor kebanyakan berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Umumnya, para korban mengaku, tergiur ikut umrah bersama First Travel karena harganya yang murah.

"Kebanyakan ASN. Mereka melaporkan penipuan yang dilakukan First Travel," lanjut Kombes Erdi.

Pembukaan posko pengaduan merupakan instruksi Mabes Polri. Gunanya untuk melakukan pendataan korban, serta melakukan klarifikasi langsung kepada para korban. "Kabareskrim yang memberikan perintah untuk membuka posko pengaduan di daerah, termasuk di Sumbar. Nantinya, setiap Polres juga akan membuka posko yang sama," sebut Erdi.

Dijelaskan Erdi, belum ada kepastian, sampai kapan posko akan dibuka.

"Secara umum, korban First Travel yang gagal berangkat asal Sumbar sekitar 500 orang. Setiap yang datang akan kita terima dan proses sesuai mekanisme yang berlaku," sebut Direskrimum.

Selain menerima pengaduan korban, petugas kepolisian juga berencana akan memanggil para agen First Travel yang ada di Sumbar. Mereka akan dimintai keterangan. Selain menjadi bagian dari proses klarifikasi, juga untuk memastikan, berapa banyak sebenarnya jumlah korban biro umrah bodong tersebut di Sumbar.

"Tahapannya akan dilakukan, termasuk melakukan pemanggilan para agent," papar Direskrimum Erdi Adrimurlan Chaniago.

Sementara, di Polresta Padang sudah ada empat korban First Travel yang melapor. Terakhir, laporan dibuat pasangan suami-istri, Suparman (53) dan Jusmayenti (50), serta Rostina. Ketiganya mengaku menjadi korban perjalanan umrah dengan mendaftar melalui agen. Setelah menyerahkan uang, sampai sekarang mereka tidak diberangkatkan.

Suparman beserta istrinya mendaftar pada November 2015, dan mengaku telah melunasi seluruh biaya administrasi sebesar Rp28,6 juta. Termasuk biaya perlengkapan umrah sebesar Rp280 ribu, yang menurut agen untuk administrasi. Dia dijadwalkan berangkat pada Juni lalu. Sementara, Rosnita telah menyetor uang kepada salah satu agen First Travel sebesar Rp14,3 juta.

Angka pasti berapa jumlah korban First Travel di Sumbar memang belum ada. Namun, sejumlah agen menyebut, ratusan, bahkan ribuan calon jemaah mereka sampai sekarang tidak diberangkatkan. Seorang agen bernama Roza Nazir, asal Padang mengaku, ada sekitar 1.100 orang yang mendaftar padanya belum diberangkatkan.

"Saya jadi agen sejak 2016 lalu, tapi sebelumnya juga pernah menjadi jamaah, pernah juga menjadi tour leader," ujar Roza.

Untuk menjadi agen, Roza diwajibkan membayar Rp 2,5 juta serta mengikuti pelatihan di Jakarta. Sejak awal, Roza hanya ingin membuka jalan bagi saudara seimannya untuk menginjakkan kaki ke Tanah Suci.

"Tadinya memang dijanjikan, untuk setiap jemaah yang berangkat akan diberikan upah Rp200 ribu untuk promo dan Rp400 ribu untuk regular. Tapi sampai saat ini enggak ada. Tadinya saya pikir, ya sudah lah, toh itung-itung ibadah setiap ada jemaah yang berangkat melalui saya," jelas Roza.

Namun, siapa sangka, niat mulianya justru menuai petaka. Bau busuk First Travel tercium juga, uang puluhan ribu jemaah yang belum diberangkatkan raib entah ke mana bak ditelan bumi.

"Saya mau nangis pun sampai sudah tidak bisa lagi. Air mata saya sudah habis. Kasihan jamaah-jmaah saya, belum lagi yang datang dari daerah. Kasihan," ungkapnya sambil memegang lembaran daftar jemaah umrah.

Roza mengaku sebagian besar jemaahnya berasal dari daerah. Bagi orang daerah, tidak hanya uang paket yang harus dikeluarkan, uang untuk mengurus segala macam administrasi serta transpor ke agen cukup menguras kantong.

"Karena jauh dan sulit, banyak yang akhirnya terpaksa menggunakan calo untuk mengurus. Itu mahal sekali jatuhnya. Belum lagi, transpornya, belum lagi macam-macam lagi pengeluarannya," tambahnya.

Roza mengaku dari 1.400 jemaah dari agen yang dikelola bersama kakaknya, hingga saat ini baru 300 orang saja yang berhasil diberangkatkan. Awalnya, Roza bahkan sempat disemprot jemaahnya yang tak kunjung berangkat. Ia dituduh menyelewengkan uang jamaah.

"Tapi saya jelaskan baik-baik. Karena kan memang ada buktinya. Semua uang jemaah yang masuk ke saya, langsung saya setorkan seluruhnya ke pusat. Jadi saya memang tidak dapat apa-apa. Saya juga korban. Sekarang sudah banyak dibahas di media, semua orang sudah tahu. Jadi memang salahnya ada di pihak First Travel," tambahnya.

Agen First Travel asal Padang lainnya, Amna (60) mengoordinir 500 jemaah. Dari jumlah tersebut, lebih dari 300 jemaah belum bisa diberangkatkan hingga kini. Menurutnya, kisruh penjadwalan umrah mulai terjadi di awal tahun 2017. Sejak Januari lalu, penjadwalan ulang atas keberangkatan umrah jemaah yang ia koordinir mulai terjadi. Puncaknya terjadi sejak April 2017 saat penundaan keberangkatan belum bisa terealisasi hingga kini.

Amna menyebutkan, terdapat sekitar 11 agen resmi First Travel di Sumatera Barat. Artinya, jumlah korban paket promo yang belum bisa berangkat umrah ditaksir sekitar 600-an orang.  "Saya tangani 500 lebih ada dari Padang, seluruh Sumbar mereka kontak saya tahunya dari laman First Travel. Uniknya, kalau dulu promo itu ada batas bulan, tahun 2017 ini promo sepanjang tahun. Itu lah kenapa orang tertarik," kata Amna seperti dilansir Republika.

Amna menyebutkan, pihak First Travel tidak pernah terbuka tentang alasan penundaan keberangkatan para jamaah umrah. Bahkan hingga saat ini kedua pemilik First Travel dinyatakan sebagai tersangka pun, belum ada kejelasan terkait keberangkatan atau pencairan kembali dana jamaah yang terlanjut dibayarkan.

Amna mengaku, sebagai agen ia merasa terzalimi atas sikap First Travel kepada jemaahnya. Padahal, sejak pertama kali menggunakan jasa First Travel pada 2014 lalu, semuanya berjalan lancar. Keanehan mulai terjadi di awal 2017 ini ketika First Travel merekrut agen di daerah-daerah secara masif. Belum lagi, pihak perusahaan menawarkan paket promo sepanjang tahun yang membuat peminat umrah langsung membludak.

Amna mengungkapkan, sebagian besar agen First Travel di Sumatera Barat pernah merasakan fasilitas umrah yang ditawarkan First Travel sebelumnya. Seperti dirinya, yang pernah menjadi jamaah First Travel pada 2014 lalu. Saat itu ia berangkat umrah bersama keluarga besarnya. Harga yang jauh lebih murah dibanding paket umrah reguler, membuat banyak kerabatnya yang menanyakan perihal paket promo yang ditawarkan.

Puncaknya, pimpinan tempat Amna dulu bekerja memanfaatkan jasanya untuk diberangkatkan umrah dengan First Travel. Nama Amna pun semakin dikenal sebagai perantara First Travel, sampai akhirnya pada Februari 2017 ia resmi diangkat sebagai agen.

Dalam kasus ini, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah menelusuri aliran dana biro perjalanan umrah First Travel. Jumlah jemaah yang diberangkatkan ke Arab Saudi mulai menyusut sejak 2015. "Kalau kami melihat, dari tahun 2011 sampai 2017 memang banyak transaksi ke jemaah. Tapi, ke sini, dari mulai mengadakan promo, banyak yang tidak berangkat. Itu dari tahun 2015 dan 2016," kata Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin di kantornya, Jalan Ir. H. Juanda, Jakarta Pusat, Selasa 29 Agustus 2017.

Kiagus menjelaskan, PPATK menemukan aliran dana dan transaksi First Travel ke luar negeri. Salah satunya transaksi pembelian sebuah restoran di Inggris. PPATK juga menemukan transaksi dari pemilik First Travel, Anniesa Hasibuan, di New York, Amerika Serikat. Transaksi itu disebut terkait kegiatan Anniesa dalam ajang pameran busana.

Beberapa transaksi memang digunakan untuk kepentingan bisnis First Travel. Di antaranya untuk pembelian tiket, sewa hotel, dan operasional memberangkatkan jemaah. Kiagus memastikan belum ada aliran dana yang mengalir ke pejabat publik. "Secara terang benderang belum, tetapi kita tidak tahu kalau ke belakang. Sejauh ini belum ada, tapi saya kira kita tunggu saja," ujarnya.

Sebelumnya, polisi menduga uang ratusan miliar rupiah dari korban sebagian besar digunakan untuk kepentingan pribadi tersangka. Menurut Firman, proses penelusuran keseluruhan dana milik First Travel saat ini belum dapat dilacak PPATK.

Penyidik menelusuri berbagai rekening dan aset milik tersangka. Dari 40 buku tabungan, penyidik hanya menemukan uang sekitar Rp1,3 juta di salah satu rekening. Sedangkan 13 dari 30 rekening yang ditelusuri PPATK telah diblokir. Dari hasil pengumpulan aset para tersangka, polisi menemukan mobil Volkswagen Caravelle, Mitsubishi Pajero, Toyota Vellfire, Daihatsu Sirion, serta Toyota Fortuner. Selain itu, ada 11 mobil yang pernah dimiliki tersangka, tapi telah berpindah kepemilikan.

Ada pula sejumlah aset gedung dan rumah, di antaranya rumah mewah di Sentul City, Depok, Jalan Kebagusan, Pasar Minggu. Mereka juga memiliki aset berupa rumah kontrakan di Cilandak, Kantor PT First Anugerah di Jalan TB Simatupang, dan di Gedung Atrium Mulia Suite Rasuna Said, serta butik milik Anniesa di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Penyidik juga menelusuri aset berupa sebuah restoran di Inggris. Informasinya, restoran itu dibeli pada 2016 seharga 700 ribu pound sterling. Dari penggeledahan di rumah tersangka di Sentul City, polisi menemukan 8 air softgun laras panjang, 1 pistol, dan 10 butir peluru tajam kaliber 5,56 milimeter. Sebagian memiliki izin kepemilikan, sebagian lagi tidak.


(han/adl/rki)


bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera