Pendidikan

Pendidikan

Kisah gepokan uang dari cukong di acara open house Kapolda

JAKARTA -- Mabes Polri menggelar rotasi para Jenderal dan Kombes akhir pekan lalu. Sejumlah kepala kepolisian daerah atau Kapolda juga mengalami rotasi.

Menjadi Kapolda tentu tak mudah. Apalagi banyak pengusaha dan cukong selalu berusaha membanjiri para jenderal ini dengan hadiah. Sebagai balas jasa apa lagi kalau bukan bantuan hukum seandainya para pengusaha ini terjerat kasus hukum.

Ada kisah menarik dari Jenderal Polisi Widodo Budidarmo saat masih menjadi Kapolda Sumatera Utara. Saat ditugaskan di Medan oleh Jenderal Hoegeng, dia tahu ini merupakan tes baginya.

Tahun 1967, Sumatera Utara dikenal sebagai sarang penyelundup dan perjudian. Perkelahian antar geng yang berebut kekuasaan terjadi setiap hari. Jika mau kaya, di sinilah tempatnya. pajabat polisi dan TNI akan menerima upeti tak putus-putusnya dari pelaku dunia hitam tersebut.

Para jenderal polisi yang terbaik sengaja ditempatkan di Medan. Dilihat apakah mereka tetap berintegritas atau malah sebaliknya.

Maka Widodo mulai bertugas. Benar saja, para cukong mendekati dirinya menawarkan fasilitas mewah untuk kala itu. Namun Widodo selalu menolaknya.

"Saya tidak bisa dibeli atau disuap oleh siapa pun," tegas Widodo dalam biografinya.

Salah satu peristiwa yang diingat Widodo adalah ketika dia menggelar open house di rumahnya saat lebaran. Seorang pria bersalaman dengannya. Setelah itu dia mengambil uang bergepok-gepok dan memberikannya langsung pada Widodo.

Apa tindakan Widodo?

Saat itu juga Widodo langsung mengembalikannya. Dengan bahasa yang santun namun tegas Widodo menolak pemberian itu tanpa membuat pria tersebut sakit hati.

Peristiwa lain terjadi saat Widodo sudah menjadi Kapolri di Jakarta. Tahu tak bisa disuap dengan uang, maka para pengusaha mencoba cara lain. Mereka tahu Widodo menyukai dunia kedirgantaraan.

Maka suatu hari ada tamu mengantarkan mainan pesawat terbang yang dikendalikan dengan remote control. Tahun 1974, barang seperti itu langka dan tentu sangat mahal. Mungkin hanya bisa dibeli di luar negeri.

Seorang utusan mengantarkan pesawat terbang ke rumah Widodo. Saat itu Widodo masih berada di kantor. Yang menerima Tono, putra Widodo. Tentu dia sangat senang mendapat hadiah pesawat terbang remote control.

Widodo yang pulang heran melihat hadiah tersebut. Setelah tahu, dia langsung memerintahkan hadiah itu dikembalikan pada pengantarnya.

"Saya tidak akan menerima sesuatu yang menurut saya ada sesuatu di baliknya. Saya selalu menjaga hal ini," tegasnya.

Semoga para jenderal polisi bisa meniru keteladanan Pak Widodo Budidarmo.


[mdk/ian/rki]

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera