Pendidikan

Pendidikan

Insiden Pembakaran Merah Putih di Ponpes Ibnu Mas’ud Bogor, Warga Usir Seluruh Santri

BOGOR -- Warga Kampung Jami, Desa Sukajaya, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, ramai-ramai mendatangi Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud, Kamis (17/8/2017).

Warga menuntut pertanggungjawaban atas tindakan pembakaran umbul-umbul merah putih yang diduga dilakukan pengurus ponpes tersebut.

Puluhan anggota Kepolisian bersenjata lengkap langsung melakukan penyekatan di depan gerbang ponpes untuk menghalau warga. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, polisi pun berjaga di lokasi kejadian.

Sejumlah orang dari pondok pesantren dilaporkan sudah dibawa untuk dimintai keterangan terkait insiden itu.

Kepala Desa Sukajaya Wahyu mengatakan, sebelumnya, warga dan pengurus Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud sempat terlibat adu mulut pada Rabu (16/8/2017) malam. Hal itu dipicu karena pihak ponpes tidak mau memasang bendera merah putih dan umbul-umbul di sekitar ponpes.

Warga yang bersikukuh, sambung Wahyu, kemudian memasang umbul-umbul di sekitar pesantren. Namun ketika sudah dipasangi, beberapa orang yang diduga berasal dari ponpes membakarnya.

"Dari semalam sudah ramai. Warga protes dengan sikap mereka," ujar Wahyu.

Lanjut Wahyu, aksi protes warga yang tidak terima dengan kejadian itu kemudian berlanjut hari ini. Warga mendatangi ponpes dengan massa yang jauh lebih banyak.

"Ada dua orang yang dibawa polisi. Warga, aparat, dan pihak pesantren sudah mediasi. Keputusannya, untuk sementara pesantren ditutup," pungkasnya.

Pelaku pembakaran diketahui seorang ustadz bernama Muhammad Supriadi bin Uladi (25), kelahiran Cirebon, 23 Agustus 1992.

Pembakaran bendera memicu emosi warga untuk bertindak anarkis. Namun masih bisa dikendalikan oleh para tokoh yang hadir pada saat itu. Dalam pertemuan itu dihadiri lengkap dari Camat Tamansari Ahmad Sopian, KH Cucun Pimpinan Ponpes, KH Asep Ketua MUI Kecamatan Tamansari, dan Kades Sukajaya Wahyudin Sumardi.

Terungkap juga bahwa santri tak diajarkan cinta Indonesia.

Berikut petikan dialognya:

Camat: Ada nggak yang melihat, yang mengajarkan santri di sini tidak suka dengan Indonesia seperti sampean?
Humas: Tidak ada
Camat: Tidak ada kan, harus cinta Indonesia kan?
Humas: Itu juga tidak ada

Kepala Desa membenarkan yayasan enggan memasang bendera meski telah diberi sosialisasi.

"Waktu yang berikan oleh muspika selambat lambatnya tanggal 17  september 2017 Ponpes Ibnu Mas'ud sudah tidak ada di Desa Sukajaya dan ditolak keberadaannya," ujarnya.

Pihak pesantren enggan berkomentar kepada wartawan saat diminta membuat surat pernyataan kesediaan menutup Ponpesnya.

Polisi sebut pembakar umbul-umbul di Bogor mengaku anti-NKRI

Seorang pengajar Ponpes Ibnu Masud Bogor berinisial M (17) ditetapkan polisi sebagai tersangka pembakaran umbul-umbul merah putih, jelang perayaan HUT RI Ke-72 pada Rabu (16/8) pukul 20.30 WIB. Saat interogasi petugas, tersangka mengaku anti-NKRI.

"Motifnya yang bersangkutan mengaku anti NKRI, jadi marah sedang nonton televisi melihat bendera atau umbul-umbul sebagai representasi Negera Indonesia kemudian yang bersangkutan bakar," kata Kapolres Bogor AKBP Andi M Dicky Pastika Gading saat di Polres Bogor, Jumat (18/8/2017).

Kapolres mengungkapkan sebelumnya tersangka M pernah terkait masalah teror, sehingga membuat masyarakat resah dan puncaknya mendatangi ponpes, Kamis (17/8) sekitar pukul 14.00 WIB karena ada pembakaran umbul-umbul di pagar ponpes yang ternyata dilakukan M .

Dari lokasi Ponpes di Desa Sukajaya Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor, kepolisian mengamankan 28 orang sebagai saksi dari pihak pesantren dan lingkungan sekitar untuk pendalaman kasus.

Setelah pemeriksaan, kata dia beberapa orang saksi dari lingkungan sekitar dan santri yang diamankan akan segera dipulangkan agar bisa melakukan aktifitas seperti biasa.

Pihak kepolisian juga telah berkoordinasi dengan tokoh agama dan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk penyeledikan lebih lanjut, terkait izin bangunan pesantren dan izin lembaga pesantren.

AKBP Dicky menyatakan anggota Pengendalian Massa (Dalmas) Polres Bogor akan terus mengamankan area pesantren, hingga batas waktu yang menjadi perjanjian pihak ponpes dengan warga selama satu bulan untuk meninggalkan daerah tersebut.

"Kami akan amankan terus, Kemarin Perjanjiannya begitu tapi kita lihat perkembangannya bagaimana," jelasnya.

Untuk tersangka M, lanjut kapolres menyampaikan dijerat dengan Pasal 66 Jo 24 huruf A UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendara, Bahasa dan Lambang Negera serta Lagu Kebangsan, dan atau pasal 406 KUHP 2 tahun 8 bulan dan atau 187 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun penjara atau denda paling banyak Rp500 juta.

Sementara itu Kepala Desa Sukajaya Wahyudin Sumardi mengatakan karena niat baik panitia kemeriahan HUT RI Ke-72 daerah setempat mendatangi pihak pesantren untuk memasang umbul-umbul ditolak, kemudian berinisiatif tetap melakukan pemasangan kemudian dibakar sehingga menyebabkan warga marah.

Hal tersebut juga dipicu aktifitas pesantren yang selama ini tertutup, dan tidak membolehkan pengurus maupun warga mengakses area dalam pesantren.

Ia juga menyampaikan bahwa ponpes tersebut memang sudah lama terlihat dipantau aparat sejak berdiri pada tahun 2011.

Sedangkan sejak awal ponpes tidak pernah melakukan izin lingkungan kepada pihak Desa setempat.

Oleh sebab itu, warga meminta pihak pesantren meninggalkan area tersebut terhitung satu bulan sejak kejadian atau pada Jumat (17/9) dan telaj disepakati pihak ponpes. "Warga nunggu perkembangan satu bulan ini," kata dia.

Pembakar umbul-umbul merah putih diduga ada kaitan dengan pelaku teror


Barang bukti kasus pengurus ponpes bakar umbul-umbul merah putih. ©2017

Polres Bogor telah menetapkan M (25), staf pengajar di Pondok Pesantren Ibnu Masud sebagai tersangka kasus pembakaran umbul-umbul merah putih. Polisi juga memeriksa yang bersangkutan terkait dugaan keterkaitan dengan pelaku teror.

"Saat ini masih dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka," kata Kepala Polres Bogor AM Dicky di Mapolres Bogor, Jumat (18/8/2017).

Selama ini warga setempat mengeluhkan tentang keberadaan Ponpes tersebut. Dari laporan, selain jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, warga Ponpes juga diduga pernah terkait dengan masalah teror.

"Kalau untuk masalah izin seperti IMB kan ranahnya pemerintah daerah. Kita fokus dulu ke kasus ini," ungkapnya.

Dia melanjutkan, tersangka dijerat Pasal 66 junto Pasal 24 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan dengan ancaman lima tahun penjara.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui M membakar umbul-umbul merah putih karena anti-NKRI. "Motifnya karena yang bersangkutan tidak setuju dan anti dengan NKRI. Kemudian melihat umbul-umbul sebagai representasi emosinya," terangnya.


[mdk/cob/rki]

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera