Pendidikan

Pendidikan

Heboh Penemuan Batu Berbentuk Penis di Tanah Datar!


TANAH DATAR, SUMBAR -- Warga Tanah Datar heboh. Pasalnya di Jorong Balai Tabuah Nagari Sungayang Kecamatan Sungayang, belum lama ini, ditemukan batu besar berbentuk penis atau alat kelamin pria.

Batu setinggi 1,5 meter ini diberi nama "Batu Perkasa" dan ditemukan di area pemakaman warga setempat, tidak jauh dari objek wista Batu Agkek-angkek.

Penemuan batu seberat 1 ton ini berawal dari prosesi penguburan seorang warga setempat di lokasi pemakaman tersebut. Secara tak sengaja, beberapa orang warga melihat batu tersebut, kemudian berinisiatif untuk merubah posisi batu yang tadinya rebah menjadi tegak berdiri. Kendati ukurannya tak terlalu besar, namun batu berbentuk penis ini beratnya minta ampun. Alhasil untuk menjadikan posisinya tegak berdiri dibutuhkan tenaga sedikitnya 20 pria dewasa.

Menurut warga setempat, keberadaan Batu Perkasa sendiri sudah ada sejak dahulunya, puluhan bahkan ratusan tahun silam. Keunikan batu berbentuk penis itu pun sudah diketahui sejak dahulu. Namun, kala itu batu ini masih belum terlihat unik karena berada dalam posisi rebah.

Salah seorang warga yang berkegiatan sehari-hari di sekitar lokasi batu itu, Zulnasri (50), kepada awak media, memaparkan, setelah mengetahui keunikan batu itu tersebut, warga bersama-sama merubah posisi batu yang tadinya rebah menjadi tegak berdiri. 

"Sebelumnya, kami coba mengangkatnya dengan beberapa orang saja dan ternyata tidak kuat karena ternyata batu tersebut sangat berat. Kami perkirakan beratnya mencapai satu ton," paparnya.

"Untuk merubah posisi batu menjadi tegak berdiri, kami juga menggunakan tali penggerek. Batu itu kami tanam dengan kedalaman sekitar 40 sentimeter di tanah dan diganjal dengan batu-batu kecil di dalamnya," ujar laki-laki yang bekerja sebagai petani tersebut.

Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat Nagari Tanjung, Faze Andrif menyebutkan, menurut cerita yang pernah didengarnya, Batu Perkasa tersebut dipahat oleh seorang pria atau salah seorang nenek moyang suku Tanjung. Konon, pahatan berbentuk penis atau alat kelamin pria ini menyimbolkan keperkasaan para pria di masa itu.

"Nagari Tanjung termasuk nagari ketiga tertua di Minangkabau, setelah Pariangan dan Lima Kaum. Sebanyak 12 koto yang dikenal di Minangkabau yaitu sembilan koto di dalam, tiga koto di luar. Salah satu tiga koto di luar tersebut termasuk Nagari Tanjung. Karena itu, saat ini cukup banyak benda-benda peninggalan di sini ditemui," ungkap mantan Wali Nagari Tanjung tersebut.

Keberadaan Batu Perkasa tersebut dari jalan utama Batusangkar - Lintau berjarak sekitar 400 meter dan sekitar 200 meter dari lokasi Batu Angkek-angkek dan terdapat beberapa makam suku Piliang serta kayu besar Batang Jua di dekat Batu Perkasa tersebut.

Menurut Faze Andrif, batu perkasa tersebut terdapat di tanah ulayat suku Piliang, namun tidak terdapat keterkaitan legendanya antara Batu Angkek-angkek dengan Batu Perkasa itu.

Dikatakannya, persamaan dua batu peninggalan bersejarah tersebut sama-sama memiliki keganjilan yang tidak tercerna oleh logika manusia. Jika Batu Angkek-angkek beratnya berubah-ubah. Ada kalanya orang yang mengangkatnya hanya merasakan berat antara lima kilogram hingga puluhan kilogram. Namun pada suatu ketika beratnya menjadi luar biasa, hingga harus mengerahkan tenaga puluhan pria dewasa untuk mengangkatnyan. Padahal, dari segi ukuran batu ini terbilang kecil.

Menurut Faze, sejak batu posisi batu dibuat berdiri tegak, warga mulai berdatangan ke lokasi untuk melihat secara langsung bahkan sembari beselfie-selfie. 

"Setelah batu itu ditegakkan sejak empat hari lalu, masyarakat sekitar mulai ramai melihatnya untuk menyaksikan secara langsung. Memang saat ini karena masih baru, cerita ini baru menyebar di nagari ini saja, belum terlalu fenomenal seperti halnya Batu Angkek-angkek," ujarnya.

Faze menegaskan, tidak ada khasiat Batu Perkasa tersebut selain hanya untuk dilihat. "Kita tidak ingin keberadaan batu ini menimbulkan perbuatan syirik bagi warga. Batu ini sama sepertibbatu lainnya, hanya saja bentuknya berbeda," terangnya.

Melihat potensi keunikan batu itu, pihak nagari nantinya secara bersama-sama ingin menjadikan batu tersebut sebagai salah satu ikon wisata di Nagari Tanjung.

"Kami yakin, ini dapat menjadi daya tarik bagi para pengunjung ataupun pelaku wisata. Nanti akan kami bahas bagaimana lokasi batu ini mudah dicapai oleh pengunjung," ujarnya.

Warga sebut Faze berharap, agar batu itu mampu menjadi ikon wisata baru dan memberikan dampak positif bagi pendapatan nagari kedepannya. 

"Kita saat ini masih sebatas rencana, tentunya akan dibahas sesuai kesepakatan bersama mau diapakan batu ini," tukasnya.

(mnh/ede)




AMOI # aliansi media online & telekomunikasi Indonesia

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera