Pendidikan

Pendidikan

Dari Tepi Indonesia

JAKARTA -- Lama dilupakan. Membangun perbatasan seperti 'membasuh wajah negara'. Selain benteng pertahanan, pada tepi Indonesia Jokowi membangun nadi ekonomi.

Lebih dari sepuluh hektare. Luas tanah itu. Dan luas bangunan, lebih dari tujuh ribu meter. Dibagi dalam zona. Ada bangunan utama. Klinik. Dan ada juga car wash. Halaman luas. Hamparan rumput. Begitu banyak tanaman hias. Pohon-pohon yang baru di tanam. Pada halaman, merah putih berkibar. Dari gerbang masuk ada dua ruas jalan. Taman di kiri-kanan.

Di sini, jantung kita mungkin tidak begitu menguras tenaga. Awan bersih. Dikitari hutan hijau. Sedikit mendongak, mata kita segera bertemu biru langit. Dibangun semenjak 18 Desember 2015. Diresmikan Mei lalu. Segera dibangun pasar modern, kawasan itu jelas sedang bergegas.

Sekian dasawarsa kita mendengar daerah itu dari desingan peluru, inilah wajah Skouw hari ini. Jika Anda belum tahu daerah itu ada di mana, silakan buka google maps. Ketik, Skouw. Maka Anda akan digiring ke tepi paling timur Indonesia. Pada bibir samudera pasifik yang maha biru itu. Skouw. Di situlah beranda negeri ini menerima tetamu dari negeri seberang, Papua New Gunea.

Daerah permai, tapi juga menjadi satu titik terpanas dalam riwayat merawat Sabang hingga Merauke. Baku tembak. Antara kita dengan pengacau keamanan. Organisasi Papua Merdeka. Selebihnya tentang para pelarian. Pelintas. Tentang mace-mace yang berjualan sirih pinang. Dan tentang kemiskinan. Di sisi kita namanya Skouw. Sisi seberang bernama Wutung.

Meski garis demarkasi begitu jelas, Skouw dan Wutung menemukan cara bersama mengatur kehidupan. Sehari-hari. Lihatlah pasar tradisional di situ. Di wilayah kita. Kira-kira sejauh 300 meter dari pintu perbatasan. Pasar itu cukup besar. Setidaknya ada 200 kios. Dan lebih dari 250 pedagang. Kaki lima banyak. Mama-mama jual sirih pinang juga ada.

Pembeli dari PNG berduyun. Transaksi bisa pakai rupiah. Bisa juga pakai kina. Mata uang Negara seberang. Kaum pedagang sudah siapkan dua mata uang itu. Satu kina sama dengan Rp 4.500 hingga lima ribu. Bila si pembeli bayar pakai kina, maka kembalian juga kina. Begitu pula rupiah. Bertahun-tahun sudah begitu. Dan, kehidupan memang tidak banyak beranjak.

Jika hari-hari ini kawasan itu mulai berderap, haruslah kita bilang, itu karena Presiden Joko Widodo. Berbilang tahun sejumlah daerah perbatasan bak halaman belakang yang terlupakan, dia menerbitkan instruksi presiden. Nomor 6 tahun 2015. Tentang percepatan pembangunan daerah lintas Negara. Dan lihatlah sekian purnama belakangan, sejumlah perbatasan kita mulai benderang.
Jokowi naik motor trail di Papua ©biro pers

Dan, kepada kita yang melihat ini sekadar gagah-gagahan, cobalah menyelam pada rencana besar ini. Roda ekonomi. Dengarlah cerita tentang Skouw itu. Warga negeri seberang senang berbelanja di wilayah kita. Mengapa? Harga adalah jawabannya. Di seberang sana, harga kebutuhan sehari-hari bisa berlipat dua dari pasar Skouw itu.

Rentang harga yang cukup jauh itu, terjadi pada hampir semua barang. Dari bikinan pabrik hingga beras. Saat meresmikan lintas batas Skouw Mei lalu, Jokowi berbicara soal peluang ekonomi ini. Bahwa di sebelah, sekilo beras bisa terbang pada harga Rp.15 ribu hingga Rp.30 ribu. Padahal dari Merauke harga sekilo cuma enam ribu perak. "Garmen juga hampir sama," tegas Jokowi. Tentu, ini peluang besar.

Sesudah pembangunan fasilitas itu, perlahan Skouw juga menderu menjadi daerah wisata. Data dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan, pengunjung ramai datang. Sekitar 300 hingga 500 orang setiap hari. Hari libur bisa membludak di atas 1500 orang. Pelancong lokal. Turis seberang.

Turis dan perdagangan. Peluang besar itulah yang ditangkap pada tahap ke dua pembangunan Skouw itu. Akan dibangun pasar modern. Kawasan perdagangan. Muat 400 kios. Segera dibangun infrastruktur permukiman terutama air bersih. Berkapasitas 50 liter per detik. Sarana lain segera dihelat.

Pada semua rencana besar itu, Skouw senantiasa tetap menjadi Papua. Kawasan ini dibangun dengan muatan budaya. Warisan para leluhur tanah itu. Ornamen Papua. Desain bangunan utama dipetik dari bangunan tangfa. Rumah khas daerah pesisir Skouw. Atap berbentuk perisai. Ada ruang panjang. Sanak saudara meriung di situ. Dari Skouw di tepi timur itu, marilah kita bergeser ke tenggara. Ke Motaain, salah satu tepi tenggara negeri maha luas ini.

Jika Anda kesulitan juga mencari daerah itu, coba jelajah google maps lagi. Ketik, Motaain. Anda akan diarahkan ke sisi utara Pulau Timor. Sisi yang bertatapan dengan pulau Alor, dengan sekat raksasa laut biru itu. Motaain cuma sebuah dusun. Dan sebagaimana dusun-dusun lain di perbatasan, dia juga berkisah tentang kesulitan. Jauh dari keramaian. Jauh dari makmur. Delapan belas tahun silam, dusun kecil itu melesat ke panggung dunia lewat ribuan orang yang berbondong dalam kengerian. Menuju Nusa Tengara Timur. Dihalau peperangan setelah dalam jajak pendapat pada

30 Agustus 1999, rakyat Timor-Timur memilih merdeka. Kini, separuh pulau itu menjadi Negara sendiri, Timor Leste. Sesudah itu Motaain seperti kumpulan cerita duka lara. Nestapa para pengungsi. Orang-orang tanpa tanah. Tanpa rumah. Tanpa masa depan. Dan, tentang pos perbatasan, yang bagai tempat jual tiket di terminal antar kota. Beranda, yang bagai halaman belakang, yang diurus seada-adanya.

Tapi marilah melihat Motaain, hari ini. Seperti halnya Skouw, dia adalah kawasan yang bergegas. Datang ke sana, dari jauh, kita akan melihat himpunan sejumlah bangunan. Yang mengawinkan arsitektur modern dengan warisan leluhur tanah itu. Atap menyerupai kubah. Itu bentuk rumah adat lokal. Mbaru Niang. Berdiri di atas lahan seluas delapan hektar, kawasan ini terlihat elok dengan latar laut biru yang laksana karpet raksasa. Masuklah dari gerbang utama. Anda akan bertemu bundaran. Air mancur. Merah putih berkibar di situ. Ada dua ruas jalan menuju bangunan utama. Ada jalur pedestrian berkanopi. Dengan taman aneka pohon hias. Ada juga tugu Garuda. Lewat jalur pedestrian itu, Anda bisa melaju ke sejumlah perkantoran di gedung utama.

Gedung utama itu terbagi dua. Kedatangan. Keberangkatan. Di situ juga ada layanan imigrasi. Bea cukai. Pada kawasan itu ada juga tempat karantina. Bangunan yang satu berjarak dengan bangunan lain. Sekitar 50 meter. Ada taman di tengah. Lalu ada pasar, yang luasnya hampir selapangan sepakbola. Total biaya membangun kawasan ini sebesar Rp.82 miliar. Seperti halnya Skouw, Motaain adalah nadi baru ekonomi di tepi tenggara itu. Di seberang sana ada Batugede. Masuk distrik Bobonaro, wilayah yang berhimpitan dengan kita. Berpisah dari Indonesia delapan belas tahun silam, ekonomi negeri di tenggara itu memang masih "menyatu" dengan Indonesia. Sejumlah toko di Batugede menjual sabun, pasta gigi, pembalut, dan kebutuhan rumah tangga lain dari Indonesia.

Lalu lihat juga pasar Turis kain. Kecamatan Raihat. Tapal perbatasan lain, masih di kabupaten Belu. Berdekatan dengan Maliana di sisi Timor Leste. Warga dari negeri seberang itu, datang berbondong-bondong. Menyeberangi sungai Malibaka. Mereka bersusah payah ke situ lantaran harga lebih murah. Kantong berhemat.

Selain membeli barang seperti baju dan celana, mereka juga membeli peralatan dapur. Peralatan dapur kita lebih murah. Banyak yang membeli untuk kebutuhan sendiri sehari-hari. Yang memborong untuk kemudian dijual lagi di tanah seberang, juga banyak. Di seberang laku keras. Meski disekat tapal batas, Turiskain menemukan caranya sendiri dalam berdagang. Transaksi bisa pakai dua mata uang. Rupiah dan juga dolar. Para pedagang juga sudah terbiasa memegang dua mata uang itu. Bila pembeli datang membawa dolar, kembalian juga dalam bentuk dolar. Rupiah juga begitu. Gemerincing bisnis itulah yang mendorong Presiden Joko Widodo mengguyurkan dana khusus demi pembangunan pasar modern di Motaain. Selain perdagangan, Motaain perlahan berdenyut menjadi daerah pariwisata. Banyak yang datang ke situ sekadar berwisata, melihat-lihat, lalu swafoto. Orang Indonesia. Orang Timor Leste.

Orang-orang dari negeri seberang itu, ramai datang saat Festival Crossborder yang digelar sejak Juni hingga Desember 2016. Digelar oleh Kementerian Pariwisata bersama pemerintah daerah Belu. Bentuknya konser musik. Kesenian Indonesia dan Timor Leste. Banyak artis Indonesia datang ke sana. Festival ini sukses mendatangkan ribuan wisatawan dari Timor Leste. Ekonomi di kawasan itu perlahan menderu. Deru ekonomi itu jugalah yang diharapkan menyala di Entikong. Mungkin nama ini sering kita dengar. Kita tahu juga itu adalah sebuah titik perbatasan di Kalimantan. Tapi di mana persisnya, mungkin kita lupa, atau memang tidak tahu. Cobalah buka google maps lagi. Ketik, Entikong. Anda akan diarahkan ke provinsi Kalimantan Barat. Ke tepi Kabupaten Sanggau. Entikong di sisi kita. Tebedu di sisi Malaysia.

Entikong adalah sebuah kecamatan. Bersebelahan dengan Serawak, dia adalah satu dari sekian halaman muka negeri ini. Tapi, seperti kisah tapal batas yang lain, Entikong adalah beranda yang juga diurus seada-adanya. Jika menyeberang ke negeri sebelah, wilayah Malaysia, dengan segera kita bisa merasakan perbedaan itu. Kita, seperti nelangsa.

Pada ulang tahun ke 44 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), di Jakarta Januari lalu, Presiden Joko Widodo berkisah tentang kunjungannya ke Entikong itu. Saat saya ke Entikong, begitu cerita Jokowi, yang namanya gedung imigrasi, gedung karantina, gedung bea cukai itu kayak kandang. "Saya enggak menyampaikan kandang apa, tapi kandang," tegasnya.

Sepulang dari Entikong, Presiden Jokowi cepat bergerak. Memerintahkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat meratakan bangunan itu. Dan, hanya diberi waktu dua minggu. Desain disiapkan. Anggaran. Tim negosiasi lahan diterjunkan. Berjalan lancar. Dan, sesudah itu mesin pembangunan mulai menderu. Daya upaya "membedaki wajah" Entikong itu sudah dimulai dari Balai Karangan. Sejauh 42 kilometer dari tapal batas. Dari Entikong. Jalan diperlebar. Jalan becek sudah beraspal. Kendaraan mulus melaju. Drainase diperbaiki. Pada musim penghujan, air masuk selokan. Tidak tumpah ke jalan. Pelebaran jalan itu sangat mendesak. Entikong adalah perlintasan paling ramai di provinsi itu. Dua pos lain dibuka di Aruk dan Badau. Dikerjakan oleh perusahaan Negara. Nilai proyek Rp.152 miliar. Berdiri di atas lahan seluas 80 ribu meter persegi. Dibagi atas beberapa area. Zona inti, sub inti dan zona pendukung. Pada tahap pertama difokuskan pada pembangunan gedung utama, utilitas, pos pemeriksaan dan kargo.

Jalur masuk dan keluar lewat pintu yang berbeda. Dari pintu gerbang, jalan masuk ke gedung utama sangat lebar. Begitu melewati gerbang, jalan masuk terbagi dua. Satu mengarah ke monument di halaman. Satu lagi untuk kendaraan. Di tengah dua jalan itu ada taman kecil. Di tanami bunga dan pohon. Monumen itu berdiri pada bundaran bertaman. Ada patung burung garuda raksasa di situ. Jalan yang dilewati mobil itu cukup luas. Di samping gedung utama itu, ada dua pintu seperti di tol. Dua kendaraan bias lewat bersamaan. Di samping pintu masuk itu ada bangunan. Halaman parkir cukup lega.

Setelah diresmikan Presiden Joko Widodo Desember 2016, Entikong tampak terus bergegas. Tanggal 13 Juli lalu, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito berkunjung ke Kuching, Malaysia. Di ibukota Serawak itu, dia bertemu dengan Menteri Industri dan Perdagangan Malaysia, Dato Mustapa Muhamed. Membahas perdagangan kedua Negara. Jika kerjasama itu mulus, Entikong bakal menjadi terminal barang internasional. Ekspor dan impor. Baik Enggar, maupun Dato Musfapa, sama-sama berharap kerjasama segera terlaksana. Jika rencana ini terwujud, maka Entikong akan menjadi nadi ekonomi di tepi Kalimantan itu.
jokowi naik menara ©2014

Dari Entikong kita bergeser sedikit ke laut lepas. Dalam peta Indonesia, ke sisi kiri atas kota Pontianak. Kepulauan Natuna. Biar lebih jelas, cobalah buka google maps lagi. Anda akan diarahkan ke Provinsi Kepulauan Riau. Itu adalah kepulauan terjauh. Masih di tepi utara negeri ini. Di selat Karimata. Itulah tapal batas kita, yang bersisian dengan begitu banyak Negara tetangga. Di laut lepas. Pada sisi utara, Natuna berbatasan dengan dua Negara. Kamboja dan Vietnam. Di bagian barat, juga bersisian dengan dua Negara. Singapura dan Malaysia, negeri serumpun kita.

Berbatasan dengan sejumlah Negara itu, pada laut yang maha luas itu, Natuna menjadi jalur pelayaran dunia. Kepulauan ini menyimpan begitu banyak kekayaan minyak dan gas bumi. Ada 16 blok migas di sana. Lima blok sudah produksi. Sementara 11 blok lagi dalam tahap eksplorasi.

Kabupaten kaya raya ini terhitung baru. Sebelumnya masuk Kabupaten Kepulauan Riau. Dia berdiri sendiri 18 tahun silam. Lewat Undang-undang Nomor 53, yang disahkan pada tanggal 12 Oktober 1999. Selain minyak dan gas bumi, kabupaten ini juga kaya akan segala jenis ikan. Obyek wisata juga banyak. Daerah terluar. Berbatasan dengan banyak Negara, kepulauan Natuna juga masuk dalam wilayah yang digagas Presiden Joko Widodo. Rabu, 8 Maret 2017, tujuh menteri terbang jauh ke sana. Rombongan para pejabat tinggi ini, dipimpin Menteri Koordinator Bidang Polhukam, Jenderal (Purn) Wiranto. Kedatangan para menteri itu, kata Wiranto, sesuai dengan arahan presiden.

Di Natuna itu, pemerintah membangun kawasan terpadu. Pada kawasan ini dibangun fasilitas barak pertahanan Tentara Nasional Indonesia. Radar lebih modern. Telekomunikasi dibangun. Pusat kesehatan. Pertanian dan perkebunan. Air bersih akan disediakan hingga pasar untuk perdagangan. Upaya membangun Natuna itu sudah dihela Presiden Joko Widodo semenjak Juni 2016. Anda tentu masih ingat foto presiden di atas kapal perang itu. Bersepatu hitam. Celana hitam. Berkemeja putih. Memakai jaket. Presiden Indonesia ke tujuh itu berdiri di atas KRI Imam Bonjol 383. Foto itu diambil saat kapal berlayar di kepulauan Natuna. Jokowi mengunggah foto di ruang kemudi kapal perang itu. Pada akun instagram miliknya. Foto-foto itu viral ke mana-mana. Disanjung banyak orang. Dia menggelar rapat di atas kapal ini. Kemampuan kita dalam menjaga laut, tegasnya, haruslah ditingkatkan.

Natuna adalah kepulauan kaya ikan. Dan Jokowi bertekad membangun industri perikanan di sana. Rencana besar ini, katanya, "Agar saudara-saudara kita di perbatasan. Kawasan terluar. Bisa maju bersama dengan saudara-saudaranya yang lain di tanah air." Dari laut lepas di Kepulauan Natuna itu, marilah kita melaju ke tapal batas yang lain. Ke sebuah pulau mungil, yang tampak seperti noktah, dalam peta besar Indonesia. La Palmas. Anda mungkin terkejut dengan nama itu. Kedengarannya seperti nama sebuah pantai nun di negeri Spanyol. Negeri yang hari-hari ini dikenal lewat sepakbola itu, memang pernah menguasai Filipina. Mengklaim kepemilikan pulau, yang kita namai Miangas itu. Dan Amerika Serikat yang kemudian menguasai Filipina, setelah perjanjian Paris 1898, memasukkan Miangas dalam peta Filipina. Belanda, yang saat itu menjajah Indonesia, tentu saja protes keras. Sebab, jauh sebelum penanggalan versi Amerika itu, pada masa VOC tahun 1648, Raja Sangir meneguhkan Miangas masuk wilayah Belanda. Direbut dua Negara itu, nasib pulau kecil ini kemudian terbang ke Mahkamah Arbitrase Internasional. Dan pada 4 April 1928, hakim Max Huber mengetuk palu.

Miangas sah menjadi milik Belanda. Setelah Belanda terusir dan kita merdeka, Miangas sah jadi milik Indonesia. Dia menjadi tepi utara terjauh negeri ini. Masuk dalam gugusan kepulauan Nanusa. Kabupaten kepulauan Talaud. Provinsi Sulawesi Utara. Miangas seluas 3,15 kilometer persegi. Dari Filipina sejauh 48 mil. Dari Nanusa sejauh 145 mil. Sendirian di utara itu, Miangas bukan saja menjadi pulau yang sunyi, tapi juga jauh dari pengawasan. Rawan perompak. Rawan penyelundupan. Beruntung tahun 2010 Telkomsel sukses masuk ke situ. Isolasi itu perlahan terbuka. Terutama komunikasi. Lalu bandara dibangun. Dimulai semenjak era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tahun 2012. Luas landasan 1.400 x 30 meter. Gedung terminal seluas 356 meter persegi. Ruang tunggu. Dan ruang keberangkatan. Hampir bersentuhan dengan bibir pantai, bandara ini membuat Miangas terlihat permai. Hijau hutan. Bandara dan laut biru.
jokowi naik motor trail ©2017

Rabu tanggal 19 Oktober 2016 lalu, Presiden Joko Widodo terbang jauh ke sana. Merasakan denyut pulau mungil itu. Meresmikan bandara itu. Bersama rombongan dia sempat mengitari kawasan itu. Berhenti pada titik pantai yang cantik. Di situ, sejenak melayani wawancara para wartawan. Tiba-tiba Presiden Jokowi menjauh dari rombongan. Berjalan ke arah pantai. Melangkah di antara batu-batu karang. Lalu, tiba di perhentian ombak. Mengenakan sepatu hitam. Kemeja putih. Kaus kaki. Jaket. Dia berdiri pada sebuah karang. Seorang diri. Dengan latar batu karang, putih buih ombak dan laut lepas. Lalu, foto hasil bidikan kamera fotografer istana kepresidenan, Agus Suparto, itu pun viral ke mana-mana. Presiden jongkok. Mengulur dua tangan ke air laut. Membasuh wajah. Beberapa kali. Aksi spontan presiden itu menuai sanjungan dari banyak netizen. Juga perasan haru. Presiden Indonesia membasuh wajah di pantai paling utara itu. Tepi Indonesia, yang pada peta negeri ini, cuma berbentuk titik hilang.

Dari keramaian ibukota, presiden kita sudah terbang jauh ke sejumlah tapal batas itu. Dari Skow hingga Entikong. Dari Motaain hingga Miangas. Hela pembangunan. Kibarkan Merah Putih. Bangun nadi ekonomi. Berdiri di batu karang. Presiden Jokowi sesungguhnya sedang membasuh wajah kita, dari tepi Indonesia.

Tulisan 'Dari Tepi Indonesia' ini juga dimuat dalam buku edisi khusus '5 Tahun Merdeka' yang akan kami rilis di Istana Merdeka pada peringatan HUT R1 ke 72 nanti.

[mdk/hhw/rki]

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera