Pendidikan

Pendidikan

Walikota Padang: Jurnalis Muslim Agar Counter Berita Hoax

PADANG -- Perkumpulan "Jurnalis Muslim" akhirnya terbentuk pada Multaqa Da'i ketiga yang diselenggarakan di Padang, 17-20 Juli kemarin. Keberadaan "Jurnalis Muslim" ini diharapkan mampu memberi nilai positif bagi perkembangan media massa akhir-akhir ini.

Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah Dt Marajo melihat, saat ini cukup banyak pemberitaan sesat atau berita hoax yang beredar di tengah masyarakat. Pemberitaan ini mempengaruhi masyarakat sebagai pembaca.

"Kita harapkan keberadaan perkumpulan 'Jurnalis Muslim' ini mampu mengcounter berita yang tak benar tentang Islam," ujar Mahyeldi, kemarin.

Mahyeldi mengatakan banyak media massa yang saat ini telah cukup kebablasan. Banyak media yang memberitakan tentang Islam secara tidak objektif.

"Bahkan menyimpangkan berita, kita berharap keberadaan perkumpulan ini bisa meluruskannya," harap Mahyeldi.
Media massa menurut Mahyeldi merupakan bagian dari dakwah. Ketika salah memberitakan, risikonya akan ditanggung di dunia dan akhirat.

"Menurut hemat saya, pemerintah harus serius dalam penataan informasi dan media ini," tukas Walikota Padang.
Perkumpulan "Jurnalis Muslim" terbentuk pada 18-19 Juli 2017. Saat digelar "Simposium Jurnalis Muslim" di Grand Inna Muara Hotel, Padang.

Sementara pada simposium jurnalis muslim, Syeikh Ahmed Bin M Batahf tampil sebagai pembicara. Dirinya menyebut bahwa media mempunyai peranan yang sangat penting dalam kejayaan dan keruntuhan suatu negara. Selain itu, media juga berperan dalam pembangunan.

Diceritakan oleh Syeih Ahmed Bin M Batahf peranan media dalam mempengaruhi masyarakat sehingga bisa membuat kejayaan atau keruntuhan bagi negara telah terjadi di zaman Firaun dan Nabi Musa.

"Media mereka pada saat itu adalah dengan mengumpulkan orang-orang yang berpengaruh atau tokoh untuk meminta dukungan," katanya.

Disebutkanya, meskipun Firaun memiliki harta dan kekuasaan yang banyak, tetapi ia tetap membutuhkan media massa untuk melanggengakan pemerintahannya. Selain itu, alat media massa di zaman nabi tersebut adalah tukang sihir.

"Tukang sihir mempunyai kesamaan dengan jurnalis, karena bisa mengubah pemikiran," tukasnya.

(rel/rki)

bn


Padang

Padang

Hukrim

Hukrim

Sumatera

Sumatera